Pedagang Ungkap Peyelundupan Impor Beras Ilegal dari Vietnam

Pedagang mengaku akan sulit menemukan pasokan beras jika tidak menyelundupkan impor beras dari Vietnam.
Nadya Zahira
4 Oktober 2022, 11:02
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (kedua kanan) berbincang dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan) saat inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Senin (3/10/2022).
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (kedua kanan) berbincang dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan) saat inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Senin (3/10/2022).

Pengusaha beras Cipinang mengungkapkan adanya penyelundupan beras yang diimpor secara ilegal dari Vietnam ke Batam. Hal tersebut dilakukan oleh sejumlah pengusaha beras lantaran ketersediaan pasokan bahan pangan tersebut minim.

"Kalau mau jujur sebenarnya, beras ini ngeri-ngeri sedap. Kalau dibilang cukup ya cukup, kalau dibilang kurang ya kurang. Paham nggak? Coba kalau selundupan ditutup, pasokan beras bisa kurang," ujar pengusaha Beras Bily Haryanto , Senin (3/10).

Pria yang akrab disapa "Billy Beras" ini mengatakan jika pasokan beras bisa kurang jika impor ilegal tersebut tidak dilakukan. Menurut dia, sebanyak 90% beras yang ada di Batam berasal dari  penyelundupan dari Vietnam.

Billy juga mengakui jika dirinya ikut dalam penyelundupan beras tersebut.  "Saya sendiri juga ikut. Kalau nggak ikut, bisnis saya mati," ujarnya.

Advertisement

Harga beras selundupan lebih murah

Dia mengungkapkan bahwa impor beras secara ilegal ini bukan untuk pulau Jawa, melainkan hanya di Sumatera dan daerah lainnya. Pasalnya pengamanan beras di Jawa cukup ketat sehingga sulit dilakukan penyelundupan.

"Beras apa aja masuk di sana. Berasnya untuk pulau-pulau sekitar, kalau Jakarta itu ketat sekali. Kalau Jakarta pasti saya lapor presiden. Kalau ke Jawa satu kilo pun nggak berani mereka, pasti presiden marah," ungkap Bily

Bily juga membeberkan bahwa terdapat pelabuhan khusus untuk penyelundupan beras tersebut, “Di Jambi ada pelabuhan untuk selundupan. Kuala Tungkal namanya,” ujar Bily.

Pengusaha beras tersebut juga mengungkapkan perbandingan harga antara beras selundupan dengan beras yang dijual di pasaran sangat jauh berbeda. Hal ini menyebabkan para oknum penyelundupan beras secara ilegal ini meraup untung yang cukup banyak.

“Kisara perbedaan harganya yang jelas bisa mencapai Rp 2.000 per kg,” ujar Bily.

Cadangan beras di bawah normal

Sementara  itu, Badan Pangan Nasional atau NFA mendata cadangan beras pemerintah atau CBP saat ini hanya mencapai 800.000 ton. Angka tersebut lebih rendah dari volume CBP pada kondisi normal atau sebanyak 1,2 juta ton - 1,5 juta ton.

Badan Pangan memutuskan menaikkan harga beli gabah dari petani untuk keperluan CBP hingga 30 November 2022 melalui Surat NFA No. 145/KS.03.03/K/9/2022. Surat tersebut menginstruksikan Perum Bulog untuk membeli gabah kering pecah atau GKP dari petani senilai Rp 4.450 per kilogram (Kg) dan gabah kering giling atau GKG di penggilingan sebesar Rp 5.550 per Kg.

Sebagai informasi, Peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag No. 24/2020 mengatur harga beli GKP untuk keperluan CBP di tingkat petani adalah Rp 4.200 per Kg. Sedangkan harga GKG di tingkat penggilingan adalah Rp 5.300 per Kg.

"Kami harus menaikkan cadangan beras pemerintah sampai akhir tahun. CBP itu harus dinaikkan minimal 1,2 juta - 1,5 juta ton. Itu minimal, baru CBP akan aman," kata Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi di Gudang Food Station Cipinang, Senin (3/10).

Sementara itu. konsumsi beras penduduk Indonesia secara rata-rata mengalami peningkatan setiap tahunnya seperti tertera dalam grafik.

Reporter: Nadya Zahira
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait