Harga Minyak Anjlok 5%, WTI Sentuh US$ 72 per Barel

Penurunan harga minyak didorong meningkatnya kasus Covid-19 di Cina dan kekhawatiran resesi global.
Tia Dwitiani Komalasari
5 Januari 2023, 06:59
Ilustrasi kilang minyak lepas pantai
Zukiman Mohamad/Pexels
Ilustrasi kilang minyak lepas pantai

Harga minyak turun lebih dari empat dolar AS per barel pada akhir perdagangan Rabu (4/1). Penurunan harga minyak didorong kekhawatiran permintaan terkait dengan ekonomi global dan meningkatnya kasus Covid-19 di Cina.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari turun US$ 4,09 atau 5,3% menjadi US$ 72,84 per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret turun US$ 4,26 atau 5,2%, menjadi US$ 77,84 per barel di London ICE Futures Exchange.

"Minyak mentah diperdagangkan lebih rendah di tengah kekhawatiran seputar Covid-19 China dan The Fed memaksa resesi global keduanya menuntut peristiwa penghancuran," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho di New York, seperti dikutip dari Antara.

Penurunan minyak didorong oleh kasus Covid-19 di Cina. Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan bahwa data yang dikeluarkan oleh pemerintah Cina kurang merepresentasikan berapa banyak orang yang meninggal dalam wabah baru-baru ini yang menyebar dengan cepat, kata  (WHO).

Selain itu, keadaaan ekonomi global dan kenaikan suku bunga bank-bank sentral juga membebani harga minyak mentah.
Manufaktur AS mengalami kontraksi lebih lanjut pada Desember, turun untuk bulan kedua berturut-turut menjadi 48,4 dari 49,0 pada November, angka terlemah sejak Mei 2020, kata Institute for Supply Management (ISM).

Pada saat yang sama, survei dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan lowongan kerja turun 54.000 menjadi 10,458 juta pada hari terakhir November. Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menggunakan pasar tenaga kerja yang ketat sebagai alasan untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama.

 Pemerintah Cina meningkatkan kuota ekspor untuk produk minyak sulingan pada gelombang pertama 2023. Hal ini menandakan ekspektasi permintaan domestik yang buruk.

Produksi minyak OPEC naik pada Desember, meskipun ada kesepakatan oleh aliansi OPEC+ yang lebih luas untuk memangkas target produksi guna mendukung pasar. Survei Reuters menemukan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memompa 29 juta barel per hari (bph) bulan lalu. Ini naik 120.000 barel per hari dari November.

Berikut perkembangan harga minyak beberapa bulan terakhir seperti tertera dalam grafik.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait