Patut Ditiru, TransJakarta Tak Pernah Naikkan Tarif Selama 19 Tahun

Nadya Zahira
17 Januari 2023, 14:53
Bus TransJakarta melintas di dekat Halte TransJakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW)Êdi Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (8/6/2022).
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/tom.
Bus TransJakarta melintas di dekat Halte TransJakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW)Êdi Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (8/6/2022).

Pakar transportasi mengatakan bahwa Transjakarta merupakan satu-satunya transportasi umum yang  tidak pernah menaikkan tarifnya setelah 19 tahun beroperasi. Tarif TransJakarta saat ini masih Rp 3.500 dalam sekali perjalanan. 

"Bisa jadi, Transjakarta satu-satunya transportasi umum di dunia yang terlama tidak menaikkan tarifnya," ujar Pakar Transportasi dari Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno, melalui keterangan resminya, yang dikutip pada Selasa (17/1).

Transjakarta sudah beroperasi selama sembilan belas tahun yang lalu, tepatnya 15 Januari 2004. Pada awalnya, Transjakarta hanya memiliki jalur Blok M – Kota sepanjang 12,9 km yang dibangun oleh Gubernur Sutiyoso.

Transjakarta dirintis dan diresmikan pada zaman kepemimpinan Gubernur Sutiyoso dan kemudian dikembangkan semasa Gubernur Fauzi Bowo, Gubernur Joko Widodo, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan terakhir Gubernur Anies Baswedan.

TransJakarta Bus Rapid Transit Pertama di Asia Tenggara

Hingga sekarang, Transjakarta sudah beroperasi sebanyak 13 jalur busway dengan skema pembelian layanan atau buy the service. Transjakarta merupakan sistem transportasi Bus Rapid Transit atau BRT pertama di Asia Tenggara dan Selatan.

Saat ini, TransJakarta telah mengoperasikan 13 koridor busway dengan jalur lintasan terpanjang di dunia, yakni 251,2 kilometer. Awalnya, TransJakarta beroperasi mulai pukul 05.00 hingga 22.00 WIB. Transportasi umum tersebut kini beroperasi hingga 24 jam  sejak 1 Juni 2014.

Pada 28 September 2011, Trans Jakarta meluncurkan angkutan pengumpan atau feeder dengan menggunakan bus berkapasitas 35 penumpang. Selain itu, juga dimunculkan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway atau APTB pada 28 Maret 2012 oleh Gubernur Fauzi Bowo.

Kemudian, pada 19 Oktober 2016 diluncurkan bus khusus wanita sebanyak 10 armada oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Setelah itu,  Gubernur Anies Baswedan meluncurkan Royaltrans rute Cibubur Junction – Blok M dan Cibubur – Kuningan pada 14 Juli 2020 dengan tarif Rp 20 ribu per orang. 

Ada juga Program Jaklingko mengintegrasikan Transjakarta dengan angkutan kota. Selain meluaskan jaringan Transjakarta, sistem ini juga memudahkan pengguna berpindah moda.

Pengaruhi Kebijakan Nasional

Secara empiris,  Djoko mengatakan, kehadiran Transjakarta Busway mampu mempengaruhi kebijakan di tataran nasional. Lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menggantikan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tidak luput dari keberhasilan Transjakarta Busway dalam improvisasi manajemen dan operasional layanan publik di sektor transportasi.

Dalam Undang-Undang tersebut pada pasal 158 ayat 1, menyebutkan dengan tegas bahwa pemerintah berkewajiban untuk menjamin ketersediaan angkutan massal berbasis jalan untuk memenuhi kebutuhan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum di kawasan perkotaan. 

Selain itu, dalam ayat 2 di pasal yang sama menyebutkan beberapa persyaratan pendukung angkutan massal, seperti mobil bus berkapasitas angkutan massal, lajur khusus, trayek angkutan umum lain yang tidak berhimpitan dan angkutan pengumpan.

Di sisi lain, mulai tahun 2004, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat atau Ditjen Hubdat memulai Program BRT di berbagai daerah.  Meskipun penerapan tersebut bukan BRT dalam arti sebenarnya bus rapid transit, lebih pada bus sistem transit, karena tidak disediakan jalur khusus untuk busway seperti di Jakarta.

"Namun, tetap menggunakan jenis bus lantai tinggi atau hight deck, sehingga bus tidak berhenti sembarangan dan hanya dapat menaik turunkan penumpang di halte yang sudah ditentukan. 

 Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, bus Transjakarta telah mengangkut sebanyak 98,88 juta penumpang sepanjang 2021. Jumlah ini turun 22,04% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 126,84 juta penumpang.

Penurunan jumlah penumpang bus Transjakarta ini akibat adanya pembatasan sosial selama pandemi Covid-19.

Berdasarkan koridor atau rutenya, Blok M – Kota mengangkut jumlah penumpang terbanyak pada 2021. Jumlahnya mencapai 8,94 juta penumpang atau 9,04% dari total penumpang Transjakarta.

 

Reporter: Nadya Zahira
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait