Pembangkit Listrik EBT di RI Berpotensi Serap 200 Ribu Tenaga Kerja

Pemerintah menargetkan sebanyak 52% pembangkit listrik di Indonesia berbasis energi baru terbarukan atau EBT dalam 10 tahun ke depan.
Nadya Zahira
15 November 2022, 14:25
Petugas melakukan perawatan sistem usai peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Waduk Muara Nusa Dua di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (11/11/2022).
ANTARA FOTO/Media Center G20 Indonesia/Aditya Pradana Putra/nym.
Petugas melakukan perawatan sistem usai peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Waduk Muara Nusa Dua di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (11/11/2022).

Pemerintah menargetkan sebanyak  52% pembangkit listrik di Indonesia berbasis energi baru terbarukan atau EBT dalam 10 tahun ke depan. Rencana penggunaan pembangkit listrik EBT tersebut diperkirakan akan menciptakan 200.000 lapangan kerja baru.

“Hampir 200.000 pekerjaan diciptakan dari sektor pengembangan energi baru dan terbarukan,” ujar Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Arthur Simatupang dalam acara “Dialogue on Independent Power ProducerJust Energy Transition Initiatives”, di Bali, Selasa (15/11).

 Arthur mengatakan, saat ini APLSI tengah merencanakan kerja sama dengan negara-negara di Asia Tenggara untuk melakukan studi kelayakan bersama terkait penggunaan pembangkit listrik EBT.  Hasil kajian tersebt diharapkan dapat meralisasikan tujuan penggunaan pembangkit listrik EBT menjadi investasi baru.

“Kami telah melihat strukturnya dan kami telah berdiskusi untuk menggunakan pembiayaan campuran, yakni bersumber dari pembiayaan swasta, publik, dan jaminan. Dan saya pikir, kita akan mulai melihat ini pada sesuatu yang dapat diterapkan di Indonesia,” ujar Arthur.

Advertisement

 Arthur mengatakan, pembangkit listrik EBT ini dapat membuat Indonesia beralih dari PLTU menuju energi bersih yang baru dan terbarukan. Penggunaan energi bersih akan banyak memberikan dampak yang positif bagi Indonesia karena bergantung pada sumber alami.

Dia mengatakan, energi bersih dapat diperbaharui dan juga dapat digunakan hampir di mana saja di dunia. “Pemerintah juga telah memperkenalkan banyak peraturan baru yang mendukung APLSI untuk bergerak menuju Indonesia yang maju dengan penerapan pembangkit listrik EBT. Kami juga menargetkan bersih nol emisi, dengan isu emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim dari sektor energi,” ujar Arthur lagi.

 Arthur mengatakan, rencana penggunaan pembangkit listrik EBT ini memiliki beberapa peraturan pelaksana yang melibatkan sektor swasta dan RUU tentang energi terbarukan. Dia menuturkan akan ada lima sejumlah peraturan baru untuk mendukung rencana tersebut.

“Saya pikir pemerintah akan terus mendukung rencana penggunaan pembangkit listrik EBT ini dengan memberikan insentif serta memberikan prioritas,” ujarnya.

 Arthur berharap, pembangkit listrik EBT ini akan berhasil dan segera diterapkan di Indonesia. Dia meminta kepada pemerintah dan masyarakat untuk terus mendukung rencana ini.

Pada 2030,  porsi pembangkit listrik EBT ditargetkan akan mencapai 28,87 GW atau 29% dari total kapasitas pembangkit listrik sebesar 99,2 GW. Porsi itu lebih  besar dari realisasi pada 2021 yang tercatat sebesar 11,15 GW atau 15% dari total kapasitas pembangkit listrik yang mencapai 74 GW.

Menurut laporan riset Institute for Essential Services Reform (IESR) yang bertajuk Financing Indonesia's Coal Phase-Out, sampai Mei 2022 ada 86 PLTU batu bara yang beroperasi di Indonesia dengan total kapasitas terpasang 40,2 GW. Dari seluruh pembangkit tersebut, IESR menilai ada 12 PLTU batu bara yang layak dipensiunkan dini pada tahun 2023, seperti tertera dalam grafik.

Reporter: Nadya Zahira
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait