Bersama BNI, Tio Craft Terus Berdayakan Difable dan Anak Putus Sekolah

Tio Craft banyak mempekerjakan difable, lalu anak putus sekolah SMP dan tidak melanjutkan sekolah, dan ibu-ibu yang sudah di atas 40 tahun.
Image title
Oleh Tim Publikasi Katadata - Tim Publikasi Katadata
3 Maret 2020, 17:28
Tio Handicraft
Katadata

Dua dekade sudah Tio Handicraft (Tio Craft) di Kulon Progo Daerah Istimewa Yoggyakarta, mengembangkan kerajinan anyaman. “Saya mulai mendirikan Tio Craft dari akhir tahun 2000, dan kini mempekerjakan sekitar 500 orang,” kata Pemilik Tio Craft, Isti Purwaningsih di pameran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kantor Pusat BNI Jakarta, 3 Maret 2020. Kebanyakan pekerja adalah warga sebagai pekerja rumahan. “Prioritasnya itu untuk difable karena kan sulit mendapat kerja di luaran, lalu anak putus sekolah SMP dan tidak melanjutkan sekolah, dan ibu-ibu yang sudah di atas 40 tahun yang sulit mendapat pekerjaan,” lanjut Isti. Ada lebih dari 10 penyandang disabilitas yang mendapat pelatihan dan bergabung dalam Tio Craft.

Tio Craft memanfaatkan bahan-bahan alami dari gedebog pisang, pandan, gebang (semacam pohon palem) dan mending sebagai bahan baku. “Kita juga memanfaatkan plastik sampah yang kita olah jadi bijih plastik dan dibuat jadi tali rafia, selanjutnya dijadikan bahan anyaman,” papar Isti tentang langkah bisnisnya untuk membantu mengurangi sampah. Berbagai bahan tadi diisulap menjadi keranjang baju, keranjang buah, dan lain-lain, dengan desain yang terus dikembangkan dan berganti-ganti.

Tio Handicraft

Pinjaman BNI untuk Kembangkan Pasar Ekspor Langsung

Hasil karya senin anyaman Tio Craft menghasilkan omzet sekitar Rp 8 milliar per tahun. Selain pasar domestik Tio Craft sudah merambah ekspor. “Kita yang ekspor ke Amerika sudah buyer direct dan yang ke negara lain, sementara ini lewat vendor,” tambah Isti. Para buyer hanya bisa menitipkan uang muka 30 persen, sehingga setiap kali mendapat order Tio Craft harus mengeluarkan yang cukup besar untuk memenuhi pesanan.

Untungnya Tio Craft mendapat kredit dari BNI hingga Rp 1,5 miliar. “Sudah tahun bekerja sama dengan BNI, dananya sangat berguna untuk mengembangkan usaha dan terutama untuk menutup 70 persen biaya pesanan ekspor, itu kan modal ya, harus selesai sampai 100 persen, kan setelah itu butuh satu bulan lagi (buyer) baru membayar,” ungkap Isti.

Mulai 2020 ini Isti berkeinginan untuk membidik buyer langsung dari luar negeri, artinya tanpa vendor lagi. Konsekuensinya, Isti harus menyediakan 100 modal untuk memenuhi pesanan. “Karena buyer langsung tanpa DP (down payment), jadi kita berharapnya ya sama BNI,” kata Isti lagi.

Selain mendapatkan akses kredit, Tio Craft juga mendapat kesempatan mengikuti pameran-pameran yang dihelat atau disponsori oleh BNI. Tio Craft menjadi satu dari 30 UMKM/ sosiopreneur jagoan BNI yang berpameran di Kantor Pusat BNI 2-3 Maret 2020, dalam rangka mengikuti seleksi atau penilaian oleh kurator untuk event New York Now (NYNOW) 2020. Jika terpilih Tio akan ikut berpameran yang bekerja sama dengan Konsulat Jendral RI di New York Amerika Serikat tersebut. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait