Digital

23/2/2019, 17.40 WIB

Dari Unicorn, Decacorn, hingga Hectocorn

Istilah unicorn semakin mencuat setelah acara debat pemilihan presiden (pilpres) kedua, pada Minggu (17/2) lalu. Gara-gara pernyataan calon presiden (capres) Prabowo Subianto saat mengonfirmasi pertanyaan capres petahana Joko Widodo mengenai kebijakan yang akan dilakukan terhadap unicorn? “Yang online-online itu ya?” kata Prabowo.

(Baca: Unicorn, Hantu Masa Depan?)

(Baca: Dukung Unicorn, Sri Mulyani Kaji Insentif Bidang Start Up)

Istilah unicorn pertama kali dicetuskan Aileen Lee, pendiri Cowoboy Ventures. Istilah ini untuk merujuk kepada perusahaan perintis atau startup yang memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Saat ini ada empat startup unicorn di Indonesia, yakni Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

(Baca: Berapa Valuasi Unicorn Indonesia?)

(Baca: Startup Fintech atau Travel Berpeluang jadi Unicorn Kelima Indonesia)

Selain unicorn, ada istilah decacorn untuk menyebut startup bernilai di atas US$ 10 miliar. Sebutan ini pertama kali dicetuskan Bloomberg pada 2015. Sementara hectocorn atau “super unicorn” merupakan startup yang valuasinya menembus US$ 100 miliar.