Imbas Corona, Ramayana Tutup Gerai, PHK & Rumahkan Pekerja di Dua Kota

Selain menutup gerai dan PHK puluhan pekerja di Depok, Ramayana merumahkan ratusan karyawan di Tanjung Pinang.
Image title
Oleh Ekarina
8 April 2020, 17:30
Bisnis Lesu Akibat Corona, Ramayana Tutup Gerai & PHK Puluhan Karyawan.
commons.wikimedia.org
Gerai Ramayana Department Store. Ramayana menutup gerainya di Depok dan merumahkan karyawan di Tanjung Pinang.

Pandemi corona memberikan tekanan terhadap perusahaan retail yang berujung penutupan gerai dan pemutusan hubungan kerja (PHK). PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) dikabarkan menutup secara permanen sebuah gerainya di Depok, Jawa Barat dan merumahkan ratusan karyawan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

PHK karyawan di Ramayanan Depok tersebar dalam video yang viral di media sosial.  Tampak karyawan perempuan berpakaian seragam abu-abu berpelukan menangisi nasib pemecatan mereka.

"Isak tangis menyelimuti suasana Karyawan Ramayana Depok Jawa Barat yang terkena PHK dampak Pandemi Covid-19," tulis akun @ndorobeii dalam video postingannya yang dilihat 152 ribu kali dan disukai 16 ribu orang ini.

(Baca: Sebanyak 5.047 Buruh di Jawa Barat Kena PHK Imbas Pandemi Covid-19)

Advertisement

Katadata.co.id menghubungi sekretaris perusahaan Ramayana, Setyadi Surya dan juga Direktur Keuangan Suryanto. Namun, hingga berita ini ditulis, keduanya belum memberikan jawaban.

Dikutip dari Detik.com, Store Manager Ramayana City Plaza Depok M Nukmal Amdar membenarkan mengenai PHK atas 87 karyawan di gerai retail tersebut. PHK karyawan dilakukan karena perusahaan menutup gerai mulai April 2020 di City Plaza Depok.

Penjualan Ramayana merosot sejak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia awal Maret lalu.Omzet Ramayana di gerai tersebut merosot 40% dan terakhir sebelum ditutup bahkan anjlok hingga 80%. Padahal, sebelum adanya temuan kasus Covid-19 pertama di Indonesia, penjualan perseroan masih stabil.

(Baca: Mal Sepi & Tutup Imbas Corona, Pengusaha Minta Insentif ke Pemerintah)

Akibat pandemi corona, Ramayana juga merumahkan 110 karyawan yang bekerja di gerai Mal Tanjung Pinang. Selain Ramayana, Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Mikro Kota Tanjungpinang, mencatat sebanyak 21 perusahaan yang melakukan PHK dan merumahkan karyawan imbas pandemi corona.

"Dampaknya bukan hanya bagi pekerja, tapi semua sektor, baik sosial, pariwisata, dan ekonomi," kata Kepala Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Mikro Kota Tanjungpinang, Hamalis, dikutip dari Antara.

Saham Ramayana menjelang penutupan perdagangan hari ini bergerak turun signifikan hingga 6,35% menjadi di harga Rp 590 per saham. Total volume saham yang diperdagangkan sejauh ini ada 20 juta unit saham dengan nilai totalnya mencapai Rp 11,86 miliar, dan frekuensi 1.380 kali.

(Baca: Hanya Tahan 3 Bulan Hadapi Corona, Pengusaha Desak Realisasi Stimulus)

Bersamaan dengan penurunan saham Ramayana, beberapa saham di sektor ritel juga tercatat anjlok pada perdagangan hari ini. Seperti saham PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang tercatat turun hingga 6,71% menjadi di Rp 1.320 per saham. Lainnya, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga turun hingga 6,61% menjadi di Rp 565 per saham.

Sebelumnya, Matahari Department Store mengabarkan pembatalan rencana ekspansi gerai dan pembagian dividen tahun ini. Chief Executive Officer (CEO) Matahari, Terry O’Connor mengatakan bisnis perusahaan retail menurun dengan tajam sepanjang Maret, meskipun pada Januari dan Februari memenuhi ekpektasi.

Untuk mengurangi tekanan, perusahaan mengambil berbagai langkah efisiensi seperti menangguhkan pembayaran dividen, kerja sama dengan pemilik mal untuk menurunkan biaya sewa, menurunkan biaya sumber daya manusia (SDM) dengan mengombinasikan pengurangan jam kerja dan penerapan cuti tidak berbayar. Bahkan perusahaan juga akan menurunkan penurunan gaji pegawai, dengan penurunan terbesar di tingkat manajemen senior.

(Baca: Matahari Tutup Semua Gerai dan Kurangi Jam Kerja Karyawan)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait