Tim Medis Pakai Jas Hujan, Kemenkes: Ada Stok Alat Perlindungan Corona

Pemerintah impor alat pelindung diri (APD) untuk petugas kesehatan dalam menghadapi virus corona.
Image title
10 Maret 2020, 16:19
virus corona, virus korona, alat perlindungan medis
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Sejumlah anak memakai masker yang diberikan petugas KAI di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2020).

Pemerintah menyatakan alat pelindung diri (APD) untuk petugas kesehatan di berbagai daerah saat ini stoknya mencukupi. Ketersediaan alat pelindung mendapat perhatian setelah kasus petugas medis RSUD Soekardjo Kota Tasikmalaya menggunakan jas hujan saat membawa pasien suspect virus corona atau Covid-19.

"Petugas kesehatan memakai jas hujan (saat menangani suspect corona), padahal stok APD masih ada di provinsi," kata juru bicara nasional terkait penanganan virus corona Achmad Yurianto di kantornya, Jakarta, Selasa (10/3).

Pemerintah mendapatkan stok APD dengan mengimpor dari beberapa negara di luar Tiongkok, yaitu India, Eropa, Belanda, dan lainnya. "Kami membeli, bukan meminta bantuan," kata Yurianto yang juga menjabat Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI.

Selain alat pelindung, pemerintah juga mengimpor alat uji sampel dengan teknologi polymerase chain reaction atau PCR sebanyak 10 ribu unit. Di luar itu masih tersisa stok lama sebanyak 500 unit.

(Baca: Dua Pasien Corona RI Membaik, Satu Pasien dapat Perhatian Khusus)

Yuri mengatakan semua provinsi mendapatkan APD dan ketersediaannya dipantau melalui sistem milik Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan. Rumah sakit yang mengalami keterbatasan pasokan APD diminta untuk berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di provinsinya.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperingatkan kekurangan global dan kenaikan harga sejumlah alat medis pelindung diri untuk mencegah penyebaran virus corona. Pemerintah dan industri diminta meningkatkan produksi sebesar 40% seiring jumlah kematian akibat covid-19 yang meningkat.

Kekurangan pasokan disebabkan oleh meningkatnya permintaan, membeli karena panik, penimbunan, dan penyalagunaan. Ini dapat membuat dokter, perawat, dan pekerja di garis depan lainnya tidak siap untuk merawat pasien Covid-19 lantaran terbatasnya akses ke persediaan seperti sarung tangan, masker medis, pelindung mata, dan jubah.

"Industri dan pemerintah harus bertindak cepat untuk meningkatkan pasokan, mempermudah pembatasan ekspor, dan memberlakukan langkah-langkah untuk menghentikan spekulasi dan penimbunan. Kita tidak dapat menghentikan Covid-19 tanpa melindungi petugas kesehatan terlebih dahulu,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam siaran pers, dikutip Rabu (4/3).

(Baca: WHO Peringatkan Kekurangan Pasokan Alat Medis Hadapi Virus Corona)

Sejak virus corona menyebar, harga alat-alat pelindung diri melonjak. Harga masker bedah meningkat enam kali lipat, resiprator N95 naik tiga kali lipat, dan jubah pelindung berlipat ganda.

Persediaan alat tersebut pun memakan waktu berbulan-bulan untuk pengiriman dan manipulasi pasar kian meluas dengan stok sering dijual kepada penawar tertinggi. WHO sejauh ini telah mengirim hampir setengah juta set alat pelindung diri ke 47 negara, tetapi persediaan semakin menipis.

Berdasarkan pemodelan WHO, diperkirakan 89 juta masker medis diperlukan untuk merespons Covid-19 setiap bulan. Untuk sarung tangan pemeriksaan, angka itu mencapai 76 juta, sementara permintaan untuk pelindung mata mencapai 1,6 juta per bulan.

Advertisement
Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait