Strategi Jerman Hadapi Lebih 1.000 Kasus Positif Corona Tanpa Kematian

Pemerintah Jerman bergerak cepat mengkarantina penduduk ketika kasus corona ditemukan. Perhelatan internasional juga dibatalkan.
Yuliawati
9 Maret 2020, 19:02
virus corona, tak ada kasus kematian korona di jerman
ANTARA FOTO/REUTERS/Flavio Lo Scalz
Jalan kosong akibat mewabahnya virus corona terlihat di Codogno, Italia, Sabtu (22/2/2020). Salah satu penyebaran corona di Jerman dari kunjungan warganya ke Italia.

Pasien positif virus corona atau covid-19 di Jerman hingga Senin (9/3) menjadi 1.151 orang. Jerman menjadi negara ketiga di Eropa dengan jumlah pasien terbanyak setelah Italia dan Perancis.

Negara ini juga berada di urutan ke-6 dengan penduduk terbanyak terinfeksi corona di seluruh dunia. Ajaibnya hingga kini belum ada kasus kematian akibat corona di negara itu.

Jerman memang terkenal sebagai salah satu negara dengan sistem kesehatan terbaik di dunia. Kanselir Angela Merkel pun berusaha menenangkan warganya dalam menghadapi corona dengan menyebutkan hal itu.  “Sistem kesehatan Jerman disiapkan dengan baik," kata Angela di situs pribadinya beberapa waktu lalu.

(Baca: Italia Isolasi Lokasi Corona, Pemerintah Belum Akan Pulangkan WNI )

Corona menyebar di 16 negara bagian di Jerman. Kasus pertama corona di Jerman ditemukan pada 27 Januari lalu, bermula dari sebuah pertemuan bisnis di kantor perusahaan penyalur otomotif Webasto di kawasan Bavaria. Karyawan Webasto di kantor Bavaria mengadakan pertemuan dengan dua karyawan asal Tiongkok.

Salah seorang karyawan asal Tiongkok tersebut baru saja berkunjung ke Shanghai dan bertemu orang tuanya dari Wuhan yang terinfeksi corona, pada 22 Januari. Perempuan itu tak memiliki gejala corona saat menularkan ke koleganya di Webasto. Virus kemudian menyebar ke 16 pegawai Webasto, dan sekitar 100 orang di Bavaria.

Kasus corona terbanyak di Jerman berada di negara bagian North Rhine Westphalia. Daerah yang padat penduduk ini hingga kini terkonfirmasi 346  kasus corona. 

(Baca: Imbas Corona, Pameran Pariwisata Terbesar Dunia di Berlin Dibatalkan)

Advertisement

Jerman bergerak cepat mengkarantina penduduk ketika kasus corona ditemukan. Misalnya, saat ditemukan kasus di North Rhine Westphalia, pemerintah mengambil langkah mengkarantina sekitar 1.000 rumah.

Karantina massal ditempuh karena orang yang terinfeksi pernah mengikuti perayaan karnaval di daerah tersebut pada pertengahan Februari. Sekolah dan taman kanak-kanak juga ditutup di negara bagian itu.

Di Hamburg juga diberlakukan isolasi terhadap orang tua dan anak-anak yang berhubungan dengan kasus pertama di daerah itu. Mereka diperintahkan untuk tinggal di rumah selama 14 hari.

Menteri Kesehatan Jens Spahn mengatakan akhir Februari lalu mengingatkan kasus corona di Eropa kemungkinan baru pada tahap awal pandemi. Pemerintah meminta pemerintah daerah di 16 negara bagian untuk memperbarui rencana kesiapsiagaan menghadapi pandemi.

Jerman membatalkan beberapa perhelatan besar untuk mengurangi penyebaran, seperti ajang Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin yang merupakan pameran pariwisata terbesar di dunia, Hannover Messe 2020 yang merupakan pameran teknologi industri terbesar di dunia, hingga beberapa pertandingan olah raga.

Penanganan wabah corona Jerman ditangani lembaga medis Jerman, Robert Koch Institute. Lembaga ini mendapatkan dana tambahan 23 juta euro atau sekitar Rp 377,9 miliar.

Dalam situs resminya, Robert Koch Institute menyatakan pemerintah Jerman memiliki persiapan yang baik dalam  menghadapi wabah corona. Mereka menyatakan memiliki jaringan layanan kesehatan dan klinik khusus yang terkemuka berdasarkan standard internasional. "Kami memiliki sistem peringatan dan pemberitahuan penyakit yang sangat baik, serta memiliki rencana kesiapsiagaan menghadapi pandemi."

Di bawah koordinasi Robert Koch Institute pemerintah Jerman menerapkan aturan yang ketat bagi pendatang atau warga negara yang tiba di Jerman dari Tiongkok, Iran, Italia, Jepang, atau Korea Selatan. Baik yang menggunakan pesawat, kapal, kereta api atau bus.

Para penumpang mendapatkan kartu pendaratan yang harus diisi mengenai informasi penerbangan/perjalanan mereka. Penumpang juga harus memberitahukan tempat tinggal selama 30 hari setelah kedatangan.

Khusus penumpang dari Tiongkok, mereka harus memberikan informasi tambahan tentang tempat tinggal di Tiongkok, dan orang-orang yang berkontak dengan mereka dan kondisi kesehatan mereka.

(Baca: Protokol Virus Corona: Pejabat Publik Jangan Pakai Kata ‘Genting’)

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait