Jokowi Hargai Keputusan Arab Saudi Setop Sementara Ibadah Umrah & Haji

Presiden Jokowi memahami Kerajaan Arab Saudi yang menghentikan sementara umrah demi mencegah penyebaran virus corona.
Yuliawati
27 Februari 2020, 13:55
setop umrah dan haji, virus corona
Presiden Joko Widodo menyatakan menghargai dan memahami keputusan Arab Saudi yang menghentikan sementara umrah dan haji.

Pemerintah Arab Saudi menghentikan sementara kedatangan jamaah umrah ke Tanah Suci, Mekkah mulai hari ini, demi mencegah penyebaran virus corona baru atau COVID-19. Presiden Joko Widodo menyatakan memahami dan menghargai keputusan pemerintah Arab Saudi tersebut.

"Kami menghargai, kami menghormati karena kesehatan itu dinomorsatukan," kata Jokowi di Jakarta, Kamis (27/2).

Kepala Negara mengatakan dirinya menerima informasi penangguhan sementara itu sejak Rabu kemarin. Dia menyatakan, penangguhan layanan umrah itu tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga berlaku untuk semua negara.

"Tidak hanya untuk Indonesia, tapi untuk semua negara. Mereka ingin memproteksi dan melindungi warga negaranya dari virus corona," kata Jokowi.

(Baca: Antisipasi Corona, Arab Saudi Setop Kedatangan Jamaah Umrah Baru)

Pemicu Arab Saudi menghentikan sementara umrah, haji dan wisata dari luar negeri karena peningkatan tajam jumlah kasus yang dilaporkan di Timur Tengah. Sebagian besar kasus tersebut berasal dari Iran yang saat ini memiliki angka kematian tertinggi di luar Tiongkok, yakni mencapai 19 orang.

Negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Kuwait, Bahrain, Oman, Libanon, Irak, dan Uni Emirat Arab melaporkan kasus positif infeksi corona di negerinya yang berasal dari warga yang melakukan perjalanan ke Iran baru-baru ini.

Advertisement

(Baca: Kasus Virus Corona Makin Merebak, Bursa Saham Global Rontok)

Menteri Kesehatan Arab Saudi Tawfiq al-Rabiah mengatakan pada Rabu (26/2), bahwa sejauh ini tidak ada kasus virus corona yang terdeteksi di negaranya. Dia pun menegaskan bahwa langkah penangguhan kedatangan jamaah umrah hanya bersifat sementara.

“Kerajaan menegaskan bahwa prosedur ini bersifat sementara dan akan dievaluasi secara terus menerus oleh pihak berwenang,” ujar al-Rabiah seperti dikutip Al-Arabiya, Kamis (27/2).

Hingga Rabu (26/2), jumlah korban meninggal virus corona di seluruh dunia hingga dilaporkan telah mencapai lebih dari 2.700 orang, dengan 80.200 orang positif terinfeksi virus yang pertama kali dideteksi di Wuhan, Tiongkok, ini.

Bahkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menyatakan ada kemungkinan wabah ini berkembang menjadi pandemi global. "Ini bukan pertanyaan apakah ini akan terjadi (pandemi), tetapi lebih pada pertanyaan kapan akan terjadi," kata kata wakil direktur utama CDC, Anne Schuchat.

(Baca: Korban Tewas Virus Corona Tembus 2.700, Kasus Merebak di Timur Tengah)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait