Asosiasi Waralaba Sebut Gerai Kopi dengan Modal Besar yang Bertahan

Asosiasi Franchise Indonesia memprediksi hanya 15-20% gerai kopi yang akan bertahan.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
22 November 2019, 15:51
kopi, bisnis kopi, waralaba
ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
Festival Kopi Sulawesi Tengah di Taman Gor Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (1/11/2019).

Asosiasi Franchise Indonesia memprediksi akan terjadi seleksi dalam bisnis gerai kopi di Indonesia. Jumlah gerai kopi akan menyusut, hanya perusahaan dengan suntikan modal besar yang akan bertahan.

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, Anang Sukandar menilai gerai kopi dengan suntikan modal besar seperti Kopi Kenangan dan Fore Coffee akan menggeser pebinis kopi lainnya. Perusahaan dengan suntikan modal besar tersebut mampu menjual kopi berkualitas dengan harga yang murah.

"Akan terjadi seleksi, jumlah pebisnis waralaba kopi enggak akan banyak. Waralaba dengan suntikan modal besar bisa bertahan, mereka menjual kopi dengan harga Rp 18 ribu di mal," kata Anang di Jakarta, Jumat (22/11).

(Baca juga: Sequoia India Suntik Dana Rp 288 Miliar ke Kopi Kenangan)

Anang menyebut yang akan tergeser bukan hanya pebisnis lokal, namun juga pemilik jaringan kopi internasional yang menjual harga kopi yang lebih mahal. Dia memperkirakan seleksi akan terjadi pada masa 3-5 tahun ke depan.

"Pada akhirnya tinggal 15-20% yang bertahan. Itu udah termasuk banyak," kata Anang.  

Jaringan Kopi Kenangan dan Fore Coffee merupakan dua perusahaan yang mendapatkan suntikan modal besar. Jaringan kafe grab n go Kopi Kenangan mendapatkan pendanaan senilai US$ 20 juta (sekitar Rp 288 milliar) dari Sequoia India. Dengan tambahan modal tersebut, Kopi Kenangan berencana membuka 150 gerai pada akhir 2019 dan melipatgandakannya menjadi seribu gerai pada 2021.

Perusahaan rintisan kopi on-demand Fore Coffee juga berhasil mengumpulkan pendanaan US$ 9,5 juta atau sekitar Rp 134 miliar. Investasi ini dipimpin oleh modal ventura East Ventures dan diikuti oleh SMDV, Pavilion Capital, Agaeti Venture Capital, dan beberapa angel investor.

(Baca juga: Fore Coffee Targetkan Buka 100 Gerai hingga Juni 2019)

Di luar faktor modal, Anang melihat pertumbuhan bisnis kopi kurang berkembang karena pemerintah kurang serius mengembangkan potensi bisnis kopi. Indonesia hanya menempati peringkat empat penghasil kopi. Bahkan, kalah dengan Vietnam yang menempati posisi kedua penghasil kopi.

Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian konsumsi kopi nasional pada 2016 mencapai sekitar 250 ribu ton dan tumbuh 10,54% menjadi 276 ribu ton.

(Baca juga Infografik: Modal Ventura Gencar Investasi di Kedai Kopi Indonesia)

Konsumsi kopi Indonesia sepanjang periode 2016-2021 diprediksi tumbuh rata-rata 8,22%/tahun. Pada 2021, pasokan kopi diprediksi mencapai 795 ribu ton dengan konsumsi 370 ribu ton, sehingga terjadi surplus 425 ribu ton. Berikut gambaran dari Databoks:

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait