Impor dari Tiongkok Turun 28,63% pada Juni, Terutama Perabotan & Baja

Impor perabot dan penerangan rumah pada Juni tercatat US$ 38,04 juta atau turun 53,62% dibandingkan Mei 2019.
Image title
Oleh Rizky Alika
16 Juli 2019, 14:53
impor dari China turun
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Suasana kegiatan ekspor impor di kawasan Tanjung Priok,  Jakarta Utara (28/6). Impor Tiongkok pada Juni 2019 mengalami penurunan dibandingkan Mei 2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor nonmigas dari Tiongkok menurun US$ 1,04 miliar menjadi US$ 2,6 miliar pada Juni 2019 atau turun 28,63% dibandingkan Mei 2019. Penurunan impor Juni 2019 terjadi pada seluruh produk, salah satunya penurunan terdalam terjadi pada perabot dan penerangan rumah serta besi dan baja.

Impor perabot dan penerangan rumah pada Juni tercatat US$ 38,04 juta atau turun 53,62% dibandingkan Mei 2019. Kemudian, penurunan impor diikuti oleh produk besi dan baja.

Impor besi dan baja sepanjang Juni sebesar US$ 101,11 juta atau turun 32,5%. Selanjutnya, penurunan diikuti oleh mesin dan peralatan listrik sebesar US$ 611,64 juta pada Juni, atau turun 31,36% secara bulanan.

(Baca: BPS: Neraca Dagang Juni 2019 Surplus US$ 200 Juta)

Selanjutnya, impor kendaraan dan bagiannya dari Tiongkok sebesar US$ 64,62 juta atau turun 30,91% dibandingkan Mei 2019. Sementara, benda-benda dari besi dan baja mencapai US$ 75,87 juta atau turun 29,76% secara bulanan.

Penurunan impor juga terjadi pada mesin-mesin/pesawat mekanik yang tercatat US$ 611,64 juta pada Juni 2019. Artinya, impor mesin atau pesawat mekanik tersebut menurun 28,06% dibandingkan bulan sebelumnya. Selain itu, penurunan impor juga terjadi pada produk plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, filamen buatan, dan bahan kimia anorganik lainnya.

(Baca: Terbesar Era Jokowi, Neraca Dagang Semester I Defisit US$ 1,9 Miliar)

Secara keseluruhan, impor mesin/pesawat mekanik memang tercatat menurun paling dalam di antara impor non migas golongan barang HS2 digit. BPS mencatat, impor kelompok tersebut menurun US$ 399,6 juta dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain itu, impor mesin dan peralatan listrik juga tercatat menurun US$ 376,8 miliar secara bulanan. Kepala BPS Suhariyanto pun mengatakan, impor HS2 digit memberikan sumbangan sebesar 60,8% dari total impor. "Ini perlu diwaspadai gerakan 10 barang utama," kata Suhariyanto.

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait