Menteri Susi Tuding Harga Garam Anjlok karena Banyak Impor

Image title
4 Juli 2019, 20:19
harga garam anjlok
ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Petani garam.

Harga garam petani pertambah anjlok di beberapa daerah. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan jatuhnya harga garam disebabkan oleh impor garam industri yang terlalu banyak.

"Impor garam terlalu banyak dan bocor," kata dia di kantornya, Jakarta, Kamis (7/4).

Menurutnya, harga garam di tingkat petambak bisa stabil bila impor garam diatur agar tidak berlebih dan bocor. Ia menyoroti harga garam rakyat di Cirebon sempat menyentuh Rp 300 per kilogram pada awal Juni lalu. Seharusnya, kata dia, petani dapat menjual garam di atas Rp 1.000 per kg.

(Baca: Impor Tinggi, Asosiasi Petani Garam Khawatir Harga di Petambak Jatuh)

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Poerwadi menjelaskan, monitoring impor garam seharusnya dilakukan oleh Kementerian Perindustrian. Tujuannya  untuk mencegah impor yang terlalu banyak dan kebocoran impor garam industri ke pasar.

"Lihat stoknya berapa. Ini kan rawan. Monitoring-nya di mana?" ujar dia.

Brahmantya menjelaskan, saat rekomendasi impor masih dipegang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pihaknya selalu melakukan survei di 23 kabupaten penghasil garam rakyat. Seluruh produksi garam rakyat dicatat sehingga rekomendasi jumlah impor dapat sesuai dengan kebutuhan. Ini artinya, impor garam dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan nasional, yaitu industri dan jumlah produksi dalam negeri.

(Baca: KKP Minta Akurasi Data Klasifikasi Kebutuhan Garam Industri)

Selain itu, KKP juga mengklasifikasi penggunaan garam untuk aneka pangan dan penggaraman. Hal ini dilakukan untuk melindungi produksi garam rakyat. Oleh karena itu, ia berharap Kemenperin dapat melakukan hal yang serupa seperti KKP.

Adapun, ia menyebutkan Kemenperin baru menyerap 950 ribu ton garam 19 Juni lalu. Padahal, tahun lalu Kemenperin menargetkan penyerapan garam mencapai 1,2 juta ton. "Itu ada disparitas. Padahal perlu ada kesepakatan lagi untuk penyerapan garam Juli sampai tahun depan," ujarnya.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait