Target Lifting Tak Tercapai, SKK Migas: Sudah di Atas Perkiraan DEN

Dwi mengungkapkan, saat ini upaya yang bisa dilakukan hanyalah menahan laju produksi migas supaya tidak terus menurun.
Image title
5 April 2019, 07:07
lifting migas
Dok. Chevron
Realisasi produksi minyak dan gas siap jual (lifting) selama kuartal I tahun ini berada di bawah target.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat realisasi produksi minyak dan gas (migas) siap jual (lifting) selama kuartal I tahun ini berada di bawah target. Kepala SKK  Migas Dwi Soetjipto mengatakan, capaian lifting migas untuk kuartal 1 sudah di atas perkiraan analisa Dewan Energi Nasional (DEN).

"Kalau dari analisa DEN 2017, tahun ini tuh produksi cuma 630 barel. Tapi kalau lifting sekarang bisa sampai 745 barel, maka sudah di atas perkiraan DEN waktu itu," ujar Dwi di Kementerian ESDM, Kamis (4/4).

(Baca: Lifiting Migas Kuartal 1 2019 Tak Capai Target, Ini penyebabnya)

Capaian lifting selama tiga bulan terakhir 94,6% atau sekitar 1.814 juta dari target 2.025 juta barel setara minyak per hari (BOEPD). Adapun lifting minyak dan kondensat sebesar 745 ribu BOPD, atau 96,1% dari target APBN 2019 sebesar 775 ribu BOPD. Sementara lifting gas sebesar 1.069 ribu BOEPD, atau 93,8% dari target APBN 2019 yang sebesar 1.250 ribu BOEPD.

Advertisement

Menurut Dwi, Indonesia memang sedang mengalami tren penurunan lifting migas. Dwi mengungkapkan, saat ini upaya yang bisa dilakukan hanyalah menahan laju produksi migas supaya tidak terus menurun.

“Kalau kami tidak berusaha, penurunannya bisa di angka 12%. Namun kami telah berusaha keras. Yang kami capai 745 ribu barel selama tiga bulan itu setelah upaya kami menekan penurunan,” kata dia. 

(Baca: Hingga Februari, Lifting Migas Capai 90% dari Target)

Menurut Dwi, dalam menjaga laju penurunan produksi, usaha yang perlu disiapkan saat ini yakni mengenai penerapan penggunaan teknologi Enhance Oil Recovery (EOR) dan peningkatan persiapan workover. Namun, dalam penerapan pengunaan teknologi EOR juga dibutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat tahun.

"Tapi memang pekerjaan di hulu kan dampaknya tidak langsung. Misalnya IDD onstream 2023 maka 2024 baru bisa memberikan pengaruh. Lalu Masela misalnya, itu sekian lama baru 2026 onstream," kata Dwi.

Sebelumnya, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher menyampaikan ada beberapa kendala yang menyebabkan lifting migas tak capai target. Kendala tersebut antara lain decline rate yang lebih tinggi dari perkiraan awal dan belum maksimalnya pengeboran pengembangan.

Kendala lainnya yakni kemunduran jadwal pengeboran pengembangan karena cuaca di lepas pantai di awal 2019, hingga kendala di perangkat fasilitas produksi, termasuk kebutuhan pemeliharaan (maintenance). Namun, menurut dia, kendala tersebut dapat segera diatasi.

Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait