BPJS Ketenagakerjaan Duga Lion Air Langgar Aturan soal Laporan Gaji

Manfaat program BPJS Ketenagakerjaan berbasis pada laporan upah dari perusahaan.
Dimas Jarot Bayu
2 November 2018, 13:12
Lion Air
Donang Wahyu|KATADATA
Pesawat Lion Air.

Manajemen Lion Air hanya melaporkan upah pilot dan pramugari sekitar Rp 3 juta dalam program perlindungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto menilai Lion Air hanya melaporkan sebagian upah atau disebut Perusahaan Daftar Sebagian (PDS).

Agus menengarai Lion Air membuat laporan yang memperkecil gaji riil pilot maupun pramugari."Ini adalah pelanggaran," kata Agus ketika dihubungi Katadata.co.id, Jumat (2/11).

(Baca juga: Laporan Awal Pemeriksaan Lion Air TJ 610 Dirilis Akhir Bulan Ini)

Menurut Agus, perusahaan harus melaporkan besaran take home pay, yakni seluruh upah yang diterima karyawan secara rutin setiap bulannya. Perihal laporan gaji Lion Air mendapat sorotan terkait jaminan yang diberikan BPJS kepada pilot dan pramugari yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat pada Senin pekan lalu.  

Laporan yang tidak sesuai dengan upah riil dapat merugikan para pekerja yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Alasannya, manfaat program BPJS berbasis pada laporan upah dari perusahaan.

(Baca juga: Basarnas Temukan Lokasi Korban dan Pesawat Lion Air)

Agus mencontohkan, dalam Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), terdapat santunan sebesar 48 kali upah yang dilaporkan jika terjadi kecelakaan kerja berdampak meninggal dunia. Saldo Jaminan Hari Tua (JHT) juga berdasarkan akumulasi iuran berdasarkan upah yang dilaporkan.

Hal serupa terjadi dalam Jaminan Pensiun (JP) yang dipersiapkan dengan estimasi manfaat mencapai 30-40% dari rata-rata upah yang dilaporkan. "Besaran iuran JHT dan JP tersebut sebesar 8,7% dari upah yang dilaporkan," kata Agus.

Jika gaji riil pilot diperkirakan mencapai Rp 50 juta, namun upah yang dilaporkan hanya sebesar Rp 3 juta, mereka kehilangan hak mendapatkan pembayaran iuran JHT dan JP sebesar 8,7% kali Rp 47 juta setiap bulannya. Jumlah ini setara dengan Rp 3,6 juta per bulannya.

(Baca pula: Pencarian Black Box Berisi CVR Lion Air PK-LPQ Terkendala Pipa PHE)

Pada manfaat pensiun, jika upah yang dilaporkan hanya Rp 3 juta, maka ahli waris hanya akan menerima pensiun bulanan sebesar 35% dari upah dilaporkan atau setara Rp 1 juta. Padahal, jika upah yang dilaporkan sebesar Rp 50 juta, maka manfaat pensiun sekitar Rp 17,5 juta per bulan.

"Besar kan selisihnya? Ini bukan masalah sepele, tetapi ini masalah hak pekerja yang harus dilindungi" kata Agus.

Corporate Communication Strategic Lion Air, Danang Mandala, tak memberikan alasan mengapa Lion Air tidak memberikan laporan upah riil. "Mohon maaf saya belum bisa memberikan info yang detail dan nanti yang menyampaikan Pak Edward Sirait ke media," kata Danang saat dihubungi Katadata.co.id.

Sementara itu Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait dihubungi beberapa media belum menjelaskan alasan Lion Air yang memperkecil laporan upah kepada pihak BPJS Ketenagakerjaan. Edward hanya mengatakan Lion Air memberikan gaji dan berbagai tunjangan kepada pilot dan pramugari. Berbagai tunjangan ini membuat pilot dan pramugari mendapatkan take home pay hingga puluhan juta.

Menurut Agus, selain Lion Air banyak perusahaan lain yang hanya melapokan upah sebagian kepada pihak BPJS Ketenagakerjaan.

Untuk itu, BPJS Ketenagakerjaan telah mengerahkan tim Pengawasan dan Pemeriksaan (Warsrik) untuk menegakkan dan menagih PDS. "Kami juga menggandeng pengawas ketenagakerjaan Kemenaker, KPKNL Kementerian Keuangan, dan Kejaksaan," kata dia.

 

Editor: Yuliawati
Video Pilihan

Artikel Terkait