Menteri Puan dan Yasonna Laoly Kembali Daftar Caleg DPR Lewat PDIP

Rencana awal PDIP hendak mendaftarkan tujuh menteri di kabinet pemerintahan Presiden Jokowi.
Dimas Jarot Bayu
17 Juli 2018, 16:44
Puan Maharani
Arief Kamaludin|KATADATA
Menteri Puan Maharani kembali mendaftar caleg untuk dapil Jawa Tengah.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mencalonkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani dan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Pileg 2019. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, Puan dan Yasonna masing-masing bakal dicalonkan dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah dan Sumatera Utara.

Hasto mengatakan, awalnya PDIP ingin mencalonkan tujuh orang menterinya sebagai (caleg). Beberapa di antaranya seperti Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Namun setelah berkonsultasi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), PDIP menilai masih banyak menteri yang perlu mendukung proses pemerintahan. Terlebih, proses pemilu pada 2019 mendatang tak boleh terganggu.

"Karena itulah demi melihat kepentingan bangsa dan negara, ada sekitar tujuh menteri yang ingin dicalonkan, pada akhirnya kami hanya memutuskan Mbak Puan dan Pak Yasonna," kata Hassto di kantor KPU, Jakarta, Selasa (17/7).

Advertisement

(Baca juga: Alasan 15 Partai Politik Daftarkan Caleg di Hari Terakhir)

Menurut Hasto, Puan dan Yasonna tak akan mundur dari jabatannya meski akan bertanding dalam Pileg 2019. Dia berdalih Puan dan Yasonna dapat menjaga disiplin ketika menjalankan tugasnya.

Puan dan Yasonna pun dipastikan akan mengajukan cuti ketika kampanye Pileg 2019. "Karena bagaimanapun tanggung jawab ke bangsa dan negara dan ke pemerintah Bapak Jokowi," kata Hasto.

Selain kedua menteri tersebut, PDIP juga mencalonkan pendiri PKS Yusuf Supendi. Hasto mengatakan, dirinya telah banyak berbincang dengan Yusuf terkait pencalonannya sebagai anggota legislatif dari dapil Jawa Barat V. Menurut Hasto, Yusuf bakal mampu menggelorakan pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan dan Islam.

(Baca juga: Nasdem dan Berkarya Gaet Artis sebagai Strategi di Pileg 2019)

 

PDIP juga beberapa akademisi di bidang kesehatan, seperti Guru Besar Universitas Hasanuddin Abdul Rozak Taha, Guru Besar UI Hasbullah Tabrani dan Purnawan Junaidi, Kemudian pakar hukum kesehatan Diah Arimbi.

Partai berlambang banteng moncong putih itu juga merekrut beberapa artis sebagai caleg. Mereka, yakni Krisdayanti di dapil Malang Raya, Ian Kasela di dapil Kalimantan Selatan, Jeffry Waworuntu di dapil Maluku, serta Harvey Malaiholo di dapil Papua Barat. Ada pula Lita Zen, Cica Koeswoyo, Sari Yok Koeswoyo, Ii Sugianto, serta Angel Karamoy.

"Bergabung juga beberapa artis yang dalam penilaian kami punya komitmen kuat dalam menggelorakan semangat rasa cinta tanah air," kata Hasto.

Johan Budi di Dapil VII

PDIP juga memasukkan Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi SP dalam daftar caleg. Johan ditempatkan di Dapil VII Jawa Timur.

Johan menyatakan pencalonannya setelah evaluasi pekerjaan dan perenungan selama enam bulan dan diskusi dengan keluarga. "Saya memutuskan untuk beralih dalam ladang pengabdian yang berbeda yaitu melalui jalur politik," kata Johan.

(Baca juga: Johan Budi Masuk Daftar Caleg DPR dari PDIP untuk Dapil Jawa Timur)

Saat masa perenungan tersebut, Johan mendapat tawaran menjadi calon kegislatif oleh PDI Perjuangan. Tawaran itu dia terima dengan pertimbangan akan membuat dirinya berkiprah dan berbuat lebih banyak buat negara jika menjadi anggota DPR.

"PDI P menjadi pilihan saya karena saya menganggapnya sebagai partai yang lebih banyak menyentuh dan bicara tentang rakyat kecil," kata Johan dalam pesan tertulis.

Selain itu, konsep PDI P tentang negara kesatuan RI berdasarkan Pancasila serta paham nasionalis religius sesuai dengan pandangannya. Hingga kini Johan belum menjelaskan proses pembagian pekerjaannya sebagai staf kepresidenan bila memasuki masa kampanye.

Johan menjabat sebagai staf khusus Presiden Jokowi bidang komunikasi sejak Januari 2016. Sebelum itu, pada 2015, Johan menjadi Pelaksana tugas (Plt.) pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Deputi Pencegahan KPK.

Johan mulai dikenal publik sejak menjadi juru bicara KPK dan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK. Sebelum bekerja di KPK, Johan merupakan salah seorang redaktur di Majalah Tempo.

 

Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait