Sri Mulyani Anggap Generasi Milenial Aset Penggerak Ekonomi

Sri mengatakan Indonesia harus mampu mengembangkan generasi muda melalui pengembangan ekonomi berbasis SDM.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
26 Oktober 2017, 15:39
Sri Mulyani wefie
ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Menteri Keuangan Sri Mulyani berfoto wefie bersama mahasiswa saat memberikan kuliah umum di Universitas Udayana, Bali, Jumat (20/1/2017).

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui generasi milenial Indonesia sebagai aset penggerak ekonomi di masa depan. Sri menyatakan pemerintah berupaya membuat kebijakan mengikuti karakter yang dimiliki oleh generasi muda angkatan 1980 hingga 1997 tersebut.

Sri menuturkan, saat ini generasi milenial memiliki tiga karakter yang khas, yakni terkoneksi dengan internet, memiliki kepercayaan diri tinggi, dan kreatif. Dia mengatakan pemerintah mencari cara bagaimana ketiga karakter ini menjadi aset yang berharga.

"Pemerintah ingin buat 3C (connectivity, confidence, creativity) ini jadi potensi, bukan disaster, sehingga Indonesia bisa menciptakan suatu aset yang kreatif dan aktivitas ekonomi untuk menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur," kata Sri saat Peringatan Hari Oeang di Gedung Dhanapala, Jakarta, Kamis (26/10).

Sri Mulyani mengatakan ketiga karakter ini telah membuat perubahan ekonomi yang cukup pesat. Di antaranya terlihat dari pesatnya pertumbuhan transaksi online yang terjadi di Indonesia. (Baca: Survei HSBC: Generasi Millenial Ingin Pensiun Di Usia Lebih Muda)

Sri menuturkan, pada 2014 hanya ada 20 juta orang yang melakukan transaksi online. Namun, pada 2017 ini sudah ada 70 juta orang yang melakukan transaksi online. “Dengan adanya teknologi, kami melihat adanya perubahan, ekonomi kita bergerak sangat cepat,” kata Sri.

Untuk itu, kata Sri, Indonesia harus mengubah pola ekonominya yang selama ini berbasis komoditi. Indonesia, lanjutnya, harus mampu mengembangkan generasi muda melalui pengembangan ekonomi berbasis manajemen sumber daya manusia (SDM).

"Untuk bisa mengembangkan menjadi negara besar pada 2030-2045, Indonesia harus mampu mendorong dari komoditi ke human capital, kita harus menginvestasikan hal ini sejak usia dini," kata Sri.

Kendati demikian, pemerintah juga perlu melihat bahwa orang-orang tersebut adalah mereka yang memiliki akses listrik, internet, serta infrastruktur. Tanpa ketiganya, generasi muda tak mampu mendorong gagasan-gagasan cemerlang.

(Baca: Sri Mulyani Klaim Alokasi Belanja Sosial Besar Sesuai Janji Jokowi)

Alhasil, pemerintah harus mampu membuat kondisi tertentu yang mendukung generasi muda untuk maju dan berkembang. "Sehingga membuat anak-anak menjadi Nadiem (CEO Go-Jek, Nadiem Makarim) yang baru. Mereka yang bisa merealisasi idenya dan menjadikan produk yang berarti bagi masyarakat," kata Sri.

Atas dasar itu, Sri menyebut jika pemerintah menggunakan APBN untuk mendorong investasi di pengembangan SDM. Hal ini dialokasikan dengan memberi anggaran kesehatan 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB), 20% dari PDB untuk anggaran pendidikan, serta pengentasan kemiskinan.

"Karena itu, APBN harus bisa memberikan kesempatan dan kemampuan. Bukan karena pemilu ini jadi populis, tidak. Tidak mungkin dilakukan investasi di human capital kalau tidak dimulai dari infrastruktur. Itu semuanya adalah keharusan, bukan kemewahan dan hobi," kata Sri.

Selain itu, dalam peta jalan ekonomi digital, pemerintah juga tengah memformulasi cara memberikan tax support kepada pelaku industri digital. Pemerintah, kata Sri, sedang berusaha membuat agar pelaku industri digital berkembang, namun juga tidak menghilangkan industri konvensional yang menyerap banyak tenaga kerja.

"Di situlah letak kita untuk mencari titik transformasi yang smooth di mana sisi sosial, terutama mereka yang harus berubah menjadi digital, mereka punya cukup waktu untuk bertransformasi," ucap Sri.

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait