Dinilai Mematikan, Amunisi Impor Polri Dipindahkan ke Markas TNI

Mabes TNI memindahkan amunisi senjata Polri karena dianggap mematikan dan dapat meledak setelah lepas dari laras senjata.
Yuliawati
10 Oktober 2017, 18:09
Pameran Alutsista TNI
ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi
Prajurit TNI AU menunjukkan berbagai jenis senjata kepada murid TK pada pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Lanud Soewondo, Medan, Sumatera Utara, Kamis (16/3).

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) memindahkan dan menyimpan ribuan amunisi senjata Stand Alone Grenade Lancher (SAGL) yang diimpor Polri, ke gudang TNI. Amunisi senjata Polri ini dipindahkan Senin (9/10) malam karena dianggap mematikan dan dapat meledak setelah lepas dari laras senjata.

"Tadi malam amunisi tersebut sudah dipindahkan ke gudang munisi Mabes TNI, sesuai dengan katalog yang menyertai sejumlah 5.932 butir amunisi dalam 71 koli," kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Wuryanto dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (10/10) seperti dikutip dari Antaranews.

Wuryanto mengatakan, amunisi yang dititipkan Mabes TNI itu amemiliki radius mematikan sembilan meter dan jarak capai 400 meter.  (Baca: BAIS Tahan Senjata Impor Polisi Mengacu Peraturan Menteri Pertahanan)

Amunisi ini tergolong munisi tajam yang ukurannya tidak sesuai standar. Apabila mengacu Inpres nomor 9 tahun 1976 tentang pengawasan dan pengendalian senjata api, maka kaliber amunisi Brimob ini sudah masuk standar militer, 5,56 mm.

"Keistimewaan amunisi ini adalah yang pertama setelah meledak pertama kemudian meledak yang kedua dan menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat itu berupa logam-logam kecil yang melukai maupun mematikan," kata Wuryanto.

Granat ini juga bisa meledak sendiri tanpa impact (tanpa benturan) setelah 14-19 detik lepas dari Laras. (Baca: Pemerintah Pinjam Rp 15,2 Triliun untuk Beli Senjata di 2018)

Wuryanto menyatakan tidak mengetahui hingga berapa lama amunisi itu disimpan di gudang senjata Mabes TNI. "Untuk sampai kapan, nanti ada aturannya sendiri. TNI bertanggung jawab dalam pengamanan selama penyimpangan. Pasti aman disimpan di gudang munisi TNI karena gudang munisinya sudah memiliki standar keamanan," kata Wuryanto.

Sementara itu, senjata api jenis SAGL kaliber 40x46 mm sebanyak 260 pucuk dapat dimiliki Polri. "Polri masih bisa menggunakan senjata SAGL, yang munisinya diganti granat asap yang sesuai standar nonmiliter," kata Wuryanto.

Senjata impor yang dipesan Korps Brimob Polri tiba di bandara Soekarno Hatta pada Jumat (29/9) malam dan kemudian ditahan Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI di Gudang Unex, kawasan kargo bandara.

(Baca: Pemerintah Pinjam Rp 15,2 Triliun untuk Beli Senjata di 2018)

Sebelumnya, mantan Kepala BAIS Soleman Ponto mengatakan penahanan senjata oleh BAIS mengacu pada Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pedoman Perizinan, Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Standar Militer di Luar Lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI.

Dalam Pasal 1 butir 3 peraturan nomor 7/2010 disebutkan senjata api standar militer memiliki kaliber laras lebih besar 5,56 milimeter dengan sistem kerja semi otomatis atau full otomatis, termasuk yang telah dimodifikasi.

"Senjata apapun yang memiliki kaliber di atas 5,56 milimeter dimasukan dalam kategori senjata standar militer," kata Soleman Pontoh yang dihubungi Katadata, Selasa (3/10).

Soleman mengatakan BAIS memiliki kepentingan menghalangi peredaran senjata militer di kalangan nonmiliter. "TNI memiliki peran menghalau ancaman militer, dan apabila senjata militer dikuasai bukan TNI, itu menjadi ancaman bagi TNI," kata Soleman.

 

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait