Baru Diluncurkan, Tank Buatan FNSS Turki-Pindad Dilirik Pasar Global

Kaplan MT, tank hasil kerjasama Pindad dan perusahaan asal Turki memiliki teknologi yang mutakhir.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
10 Oktober 2017, 16:39
Alutsista TNI
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Pameran Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) TNI di depan Trans Studio Mall, Bandung, Jawa Barat, Selasa (3/10).

Produk terbaru PT Pindad (Persero) berupa prototipe medium tank, Kaplan MT, mulai dilirik pasar mancanegara. Beberapa negara dari regional Asia Tenggara mulai berminat dengan kendaraan tempur hasil kolaborasi Pindad dengan perusahaan asal Turki, FNSS.

Kaplan MT saat ini baru akan diproduksi untuk kebutuhan dalam negeri. Rencananya, Kaplan MT baru akan diproduksi sebanyak 100 unit untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI). "Sudah ada peminat dari luar," kata Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose di Fasilitas Divisi Munisi PT Pindad, Turen, Malang, Jawa Timur, Senin (9/10).

Abraham mengatakan, tingginya minat dari pasar mancanegara disebabkan karena spesifikasi Kaplan MT yang mutakhir. Kaplan MT memiliki berat 30-40 ton dengan ukuran 7 meter x 3,2 meter x 2,7 meter.

(Baca: Pemerintah Pinjam Rp 15,2 Triliun untuk Beli Senjata di 2018)

Medium tank ini menggunakan mesin diesel dengan sistem transmisi otomatis (fully-automatic) yang mampu mengangkut 3 personel, terdiri dari juru kemudi, juru tembak, hingga pemberi komando. Dengan kecepatan 70 kilometer per jam, Kaplan MT memiliki jarak tempuh maksimal sekali jalan 450 km.

Selain itu, medium tank ini juga dilengkapi dengan meriam berkaliber 105 mm. Ia juga menggunakan Remote Control Weapon System (RCWS). "Jadi ini bisa dikatakan baru pertama di dunia untuk yang kelas medium, light tank. Makanya ini jadi andalan Pindad ke depan," kata Abraham.

Kendati dilirik pasar mancanegara, Kaplan MT akan difokuskan terlebih dahulu untuk TNI. Direktur Teknologi dan Suplai PT Pindad Ade Bagja menuturkan, selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, hal tersebut juga dimaksudkan untuk memperlihatkan kinerja Kaplan MT.

Saat ini, kata Ade, ada beberapa fase yang harus ditempuh Kaplan MT sebelum bisa dipasarkan. Medium tank tersebut harus mengikuti uji mobilitas, uji tembak, hingga proses sertifikasi.

"Jadi medium tank ini di akhir 2017 sampai awal 2018 akan diuji habis-habisan. Harapannya pertengahan 2018 sudah punya semua dokumen. Kalaupun pemesanan dilakukan 2018, delivery dilakukan 2019," kata Ade.

Selain Kaplan MT, Pindad juga akan mengembangkan Kendaraan Tempur (Ranpur) 8x8 Amphibious. Kendaraan tersebut dikembangkan bersama dengan perusahaan asal Republik Ceko.

Ranpur 8x8 memiliki berat kosong 15.000 kilogram, berat maksimal berenang 20.000 kilogram, dan beban maksimal berenang 5.000 kilogram. Ranpur 8x8 dapat menampung 12 kru dengan kecepatan maksimal 110 kilometer per jam.

Di air, Ranpur 8x8 memiliki kecepatan maksimal 10 kilometer per jam. Jarak tempuh yang dimiliki kendaraan tersebut mencapai 600 hingga 700 kilometer.

Ade menuturkan, pengembangan Ranpur 8x8 dimaksudkan agar Pindad dapat mempercepat penguasaan teknologi kendaraan tempur beserta sistemnya secara keseluruhan. Harapannya, hal ini dapat membuat Pindad dapat memproduksi alutsista yang diinginkan oleh pelanggannya.

Menurut Ade, pengerjaan Ranpur 8x8 akan dilakukan pada 2018 mendatang. Dia berharap pengerjaan Ranpur 8x8 dapat dilakukan sebelum produksi Kaplan MT selesai. "Kalau bisa secepatnya. Mungkin 2018 sebelum medium tank," kata Ade.

Pindad saat ini telah memproduksi berbagai alutsista, mulai dari senjata, munisi kaliber kecil (MKK), munisi kaliber besar (MKB), kendaraan tempur seperti panser dan anoa, juga bahan peledak. Selain itu, Pindad juga mengembangkan usahanya untuk memproduksi alat industrial seperti excavator, alat dan mesin pertanian (Alsintani), serta generator listrik.

Ada pula produksi alat penunjang kereta api dan crane untuk pelabuhan. "Kami juga punya anak-anak perusahaan yang bergerak di trading, rumah sakit, dan lainnya," kata Ade.

Target ekspor

Nilai ekspor PT Pindad hingga Oktober 2018 sekitar 10-15% dari penjualan produknya. Angka tersebut masih cukup jauh dari target yang dicanangkan Pindad sebesar 40% pada 2017. "Baru kurang lebih 10-15%," kata Abraham.

Abraham mengatakan, saat ini pihaknya masih terus mengejar ekspor produk Pindad ke luar negeri. Saat ini, Pindad mengaku telah melakukan beberapa penjajakan penjualan produknya dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. "Tentunya berupa ekspor munisi maupun senjata," kata Abraham.

Abraham menuturkan, rendahnya ekspor produk Pindad terkendala oleh masalah perizinan sesuai aturan yang berlaku di Indonesia. Pasalnya, produk tersebut perlu diuji dulu sebelum bisa diterbangkan ke mancanegara.

Menurutnya, uji produk tersebut membutuhkan izin dengan waktu yang cukup lama. Dia mencontohkan, alat peledak yang diproduksi Pindad memerlukan izin uji terlebih dahulu dari Kementerian Pertahanan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Sebab, uji alat peledak tersebut harus diterbangkan menggunakan pesawat F-16 milik TNI AU. Jika izin tidak diberikan, maka Pindad terpaksa mengujinya secara konvensional dengan meledakkannya dari dalam tanah.

"Kalau kami berbicara ekspor, harus tetap juga taat pada UU dan perizinan dari Kementerian Pertahanan atau Panglima TNI," kata Abraham.

Abraham mengatakan, salah satu produk yang akan diekspor tahun ini adalah 60 ribu alat peledak. Jumlah tersebut terdiri dari 30 ribu alat peledak tipe MK81 dan 30 ribu alat peledak tipe MK82.

Direktur Teknologi dan Suplai PT Pindad Ade Bagja mengatakan, pesanan kedua produk tersebut dalam jangka waktu multi-years, Nilai ekspor untuk dua produk tersebut hampir senilai US$ 120 juta atau setara Rp 1,6 triliun. "Perkiraan MK82 kasarnya satunya US$ 2.000. MK81 lebih murah lagi," kata Ade.

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait