Jokowi, Prabowo dan Gatot Nurmantyo Diusung Jadi Bakal Capres PAN

PAN mengusung Gatot Nurmantyo karena dianggap sosok dan kepribadian yang dianggap layak menjadi capres atau cawapres.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
18 Agustus 2017, 20:36
Partai Amanat Nasional
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (tengah) didampingi Sekjen PAN Eddy Soeparno (kiri) dan Wakil Ketua DPP PAN Bara Hasibuan (kanan) memberikan keterangan di DPP PAN, Jakarta, Jumat (30/12).

Partai Amanat Nasional (PAN) mempertimbangkan tiga orang yang akan diusung sebagai calon presiden dalam Pemilu Presiden 2019. Tiga calon presiden yang diperhitungkan PAN yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi), Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Ketua DPP PAN Yandri Susanto mengatakan ketiga nama tersebut akan dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PAN yang akan diselenggarakan pada 21-23 Agustus 2017 di Bandung. Dia mengatakan hasil Rakernas yang akan menentukan pengerucutan pada satu nama atau malah hanya menyebutkan kriteria capres.

"Terbuka untuk dibahas, dibahas itu kan bisa jadi sebut nama, bisa jadi kriteria. Itu saya belum bisa mendahului, tapi itu terbuka untuk dibahas," kata Yandri, Jumat (18/8).

(Baca: Tanpa PAN, Petinggi Fraksi Partai Koalisi Kunjungi Jokowi)

Mengenai masuknya Gatot Nurmantyo sebagai bakal calon presiden yang akan diusung PAN, kata Yandri, sosok dan kepribadian Gatot yang dianggap layak menjadi capres atau cawapres.

"Kriteria menjadi pemimpin sudah ada di diri beliau. Pak Gatot itu kan dari prajurit bawah, dari Akmil (Akademi Militer), Letda (letnan dua) sampai jenderal penuh," tutur Yandri kepada wartawan.

Yandri mengatakan, pembahasan calon presiden diperlukan mengingat Pemilu Presiden akan diadakan serentak dengan Pemilu Legislatif pada 2019 mendatang. Nantinya, keputusan terkait pencalonan presiden tersebut akan menjadi rekomendasi untuk Rakernas PAN di tahun depan guna persiapan Pemilu Serentak 2019.

PAN merupakan partai yang menyatakan mendukung mengusung Jokowi. Namun, koalisi PAN dengan pemerintahan renggang karena partai tersebut kerap berseberangan. (Baca: PAN Absen di Rapat Koalisi, Jokowi Klaim Kirim Undangan)

Pada pilpres 2014, PAN mendukung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa bersama dengan enam partai lainnya. PAN menjadi bagian kabinet Jokowi sejak reshuffle atau perombakan kabinet jilid dua.

Meski berada dalam kabinet, PAN kerap berada dalam posisi berseberangan, di antaranya dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. PAN mendukung Anies Basewedan- Sandiaga Uno bersama dengan Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera. Sementara partai koalisi pemerintah mendukung Ahok-Djarot Syaiful.

(Baca: Berbeda Sikap Politik, PAN Siap Terima Keputusan Reshuffle)

Sementara enam partai politik koalisi lainnya, yakni PDI Perjuangan, Nasdem, PPP, Hanura, PKB dan Golkar merupakan partai yang solid mendukung pemerintah.

Partai Golkar merupakan salah satu partai yang menyatakan akan mendukung Jokowi untuk maju kembali pada Pilpres 2019. Golkar mengklaim dengan dukungan suara dari mereka, Jokowi akan memenangkan Pilpres dengan suara mencapai 65%.

"Jadi Golkar masuk ada nilai tambahnya, pastikan kemenangan Jokowi di atas 65%," kata Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (18/8).

Idrus mengatakan, partai berlambang beringin tersebut akan konsisten dan fokus mendukung Jokowi dalam pencalonan presiden. Bahkan, guna mendukung pencalonan tersebut Idrus menyebut dirinya bersama Nurdin Halid akan berfokus menggerakkan kerja-kerja politik partai.

"Saya sebagai Sekjen Partai Golkar dan kemarin juga ditugaskan dengan Nurdin Halid, maka kita fokus pada koalisi mendukung Jokowi sebagai capres 2019,” tutur Idrus.

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait