Kurator Nyonya Meneer Mulai Hitung Jumlah Piutang Kreditor

Hingga kini kurator belum berhasil menemui Presiden Direktur Nyonya Maneer Charles Saerang.
Yuliawati
11 Agustus 2017, 17:43
Nyonya Meneer
ANTARA FOTO/Aji Styawan
Pesepeda melintasi pabrik jamu PT Njonja Meneer di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (8/8).

Pengadilan Niaga Semarang, Jawa Tengah menggelar pertemuan antara para kreditor dan kurator terkait kasus pailit Nyonya Meneer. Pertemuan ini yang pertama kali sejak pengadilan memutuskan Nyonya Meneer pailit pada Kamis, 3 Agustus lalu.

"Pertemuan pertama dengan para kreditor untuk membahas pengumuman vonis kepailitan dan mendata mengenai jumlah piutang para kreditor," kata Adhitya Prihandono, staf kuasa hukum kurator Nyonya Meneer dihubungi Katadata, Jumat (11/8).

Pertemuan ini dipimpin oleh Hakim Pengawas Edi Suwanto yang menentukan batas akhir pelaporan piutang oleh kreditor pada 21 Agustus 2017. Pertemuan lanjutan akan diadakan pada pekan depan untuk membahas kelanjutan penyitaan aset pabrik Nyonya Meneer.

(Baca: Tim Kurator Sita Pabrik dan Seluruh Harta Nyonya Meneer)

Advertisement

Wahyu Hidayat, kurator yang menghadiri pertemuan tersebut menyatakan hingga saat ini baru ada tiga kreditor yang secara resmi sudah melaporkan piutangnya. Mereka yakni karyawan Taman Jamu Bawen, PT JNE, serta kreditor bernama M.Azhar dengan nilai piutang mencapai Rp3,3 miliar.

Kurator hingga kini belum berhasil menemui Presiden Direktur Nyonya Maneer Charles Saerang. "Kami sudah kirimkan surat ke kediaman beliau, namun belum bertemu langsung," kata Wahyu seperti dilansir dari Antaranews.

Sebelumnya pemilik Panasonic Gobel Group Rachmat Gobel menyatakan ingin menyelamatkan Nyonya Meneer. Gobel menyampaikan dalam pertemuan dengan Charles Saerang pada Rabu (9/8) malam.

(Baca: Bertemu Saerang, Rachmat Gobel Akan ‘Selamatkan’ Nyonya Meneer)

Aset Nyonya Meneer kini berada di bawah kuasa dan dikelola kurator setelah resmi melakukan penyitaan pada Selasa (8/8). Selain memasang spanduk, kurator juga akan mengumumkan di beberapa media mengenai status pailit dan penyitaan aset pabrik jamu tersebut. Diharapkan para kreditor segera melaporkan besaran piutang kepada kurator.

Kurator menyita sejumlah aset berupa tanah dan bangunan milik perusahaan jamu tersebut yang tersebar di sejumlah daerah. Aset yang disita berupa tanah dan bangunan tersebut tersebar di sejumlah daerah di Kota Semarang dan Kabupaten Semarang. Salah satu aset yang telah disita yakni pabrik yang berada di Jalan Kaligawe, Kota Semarang.

PN Semarang memutuskan Nyonya Meneer pailit setelah mengabulkan permohonan pembatalan putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan kreditor asal Kabupaten Sukoharjo yang bernama Hendrianto Bambang Santoso.

(Baca: Nyonya Meneer Pailit, Bappenas Lihat Bukan Faktor Bisnis Jamu)

Sejak 20 Juni 2017, Hendrianto mengajukan permohonan agar pengadilan membatalkan Putusan Pengesahan Perdamaian (homologasi) yang disahkan pada 1 Juni 2015. Putusan tersebut menyebutkan Nyonya Meneer memiliki waktu hingga 20 Juni 2020 menyelesaikan persoalan utang dari 36 kreditor yang berjumlah Rp 270 miliar.

Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional (GP Jamu) sebelumnya berharap pemerintah turun tangan membantu menyelamatkan kasus pailit PT Nyonya Meneer. “Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan kiprah perusahaan yang berusia hampir seratus tahun dan juga dampaknya terhadap seribu pekerjanya,” kata Ketua Umum GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi , Senin (7/8).

Namun, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto setelah bertemu Charles Saerang menyatakan persoalan kepailitan yang dialami Nyonya Meneer sebagai persoalan bisnis dan perkara hukum harus dijalani korporasi. "Kalau menyangkut business process, pemerintah enggak bisa intervensi," kata Airlangga di kantor Kementerian Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (9/8).

(Baca: Asosiasi Jamu Harap Pemerintah Selamatkan Nyonya Meneer)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait