Bacakan Pleidoi, Terdakwa Irman Sebut Gamawan Fauzi Terima Uang e-KTP

Dalam nota pembelaan, terdakwa e-KTP Irman menyatakan memberikan uang kepada mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dan Sekjen Kemendagri.
Dimas Jarot Bayu
12 Juli 2017, 17:22
Terdakwa e-KTP Sugiharto dan Irman
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Terdakwa dugaan korupsi pengadaan e-KTP Sugiharto dan Irman memasuki ruang sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (12/6).

Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) tahun anggaran 2011-2013, Irman mengaku pernah menyerahkan dana kepada mantan Menteri Dalam Negeri 2009-2014, Gamawan Fauzi dan mantan Sekretaris Jenderal Kemeterian Dalam Negeri, Diah Anggraini.

Irman mengatakan, dia memberikan uang sebesar Rp 72,5 juta dengan perincian kepada Gamawan Fauzi sebesar Rp 50 juta dan kepada Diah Anggraini sebanyak Rp 22,5 juta.

Uang yang diberikan kepada Gamawan dan Diah tersebut, kata Irman, merupakan dana yang diterimanya dari terdakwa e-KTP Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) Dirjen Dukcapil, Sugiharto.  Adapun Sugiharto menerima uang dari Andi Agustinus alias Andi Narogong yang merupakan tersangka makelar proyek pengadaaan kasus e-KTP.

Irman mengatakan, dirinya menerima uang sebesar US$ 500 ribu atau sekitar Rp 6,6 miliar melalui dua kali kesempatan. Pada kesempatan pertama, Irman memperoleh US$ 300 ribu atau Rp 4 miliar. 

"Uang yang dari Andi sejumlah US$ 300 ribu dalam hal ini secara jujur saya akui bahwa uang itu saya terima dari terdakwa dua (Sugiharto) dan sudah saya setorkan ke KPK pada 8 Februari 2017," kata Irman ketika membacakan nota pembelaan atau pleidoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (12/7).

(Baca: Jaksa Jelaskan Fakta Keterlibatan Setya Novanto dalam Korupsi e-KTP)

Sementara, pada kesempatan kedua Irman menerima uang sebesar US$ 200 ribu atau sekitar Rp 2,6 miliar yang sebagian uang yakni sebesar Rp 1,258 miliar ia gunakan untuk membiayai kegiatan operasional tim supervisi proyek pengadaan e-KTP. Sisa dananya sebersar Rp 72,5 juta yang kemudian dia berikan kepada Gamawan dan Diah.

Adapun, Irman menggunakan Rp 50 juta untuk keperluan pribadinya."Uang sejumlah Rp 50 juta itu telah saya setorkan ke rekening KPK di Bank BRI pada 14 Desember 2016," ucap Irman.

Keterangan Irman ini memperkuat tuntutan jaksa KPK yang menyebutkan Gamawan menikmati aliran dana e-KTP. Saat membacakan surat tuntutan terhadap Irman dan Sugiharto pada 22 Juni lalu, jaksa menyebutkan adanya aliran untuk Gamawan Fauzi.

Berdasarkan surat dakwaan, dalam proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut, Gamawan disebut menerima US$ 4,5 juta atau sekitar Rp 60 miliar. Dalam persidangan, Gamawan pun membantah menerima fee dari proyek e-KTP.

Irman menyatakan penyesalannya karena telah menerima uang suap dari Andi Narogong. Ia juga menyesal karena tidak mampu menolak intervensi beberapa pihak dalam proses pengadaan proyek e-KTP.

(Baca: Dua Terdakwa E-KTP Jadi Justice Collaborator, Dituntut 5 dan 7 Tahun)

"Dengan jujur saya sampaikan bahwa saya sangat menyesal atas ketidakmampuan saya menolak intervensi dari beberapa pihak yang mengganggu e-KTP dan mencemari niat baik saya," kata Irman.

Di akhir pembacaan pleidoi, Irman meminta Majelis Hakim Pengadilan Tipikor untuk membebaskannya dari tuntutan membayar uang pengganti sejumlah US$ 273,7 ribu, Rp 2,24 miliar, dan 6.000 SGD atau setara Rp 5,5 miliar. "Saya mohon dapat membebaskan saya dari pembayaran uang pengganti," kata Irman.

Sebelumnya, jaksa menuntut Irman dan Sugiharto, masing-masing dengan hukuman tujuh dan lima tahun penjara. Keduanya dalam status justice collabo‎rator (JC) pelaku tindak pidana yang mengakui perbuatannya, bukan pelaku utama dan memberikan keterangan sebagai saksi di dalam proses peradilan.

Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait