Pemerintah Targetkan Peneliti Temukan Vaksin Covid-19 pada Akhir 2020

Pemerintah mendorong produksi vaksin dan alat uji corona dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di dalam negeri.
Dimas Jarot Bayu
4 Juni 2020, 20:44
vaksin virus, covid-19,
123RF.com/Lightfieldstudios
Beberapa negara melakukan penelitian untuk mengembangkan vaksin antivirus corona (Covid-19).

Pemerintah meminta agar para peneliti di Indonesia turut memproduksi vaksin virus corona atau Covid-19. Bahkan, pemerintah menargetkan agar vaksin corona dapat ditemukan pada akhir 2020.

"Presiden tadi sudah instruksikan agar segera tim peneliti bergerak mencari, menemukan vaksin yang nanti bisa digunakan untuk Indonesia sendiri," ujar Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy usai rapat terbatas melalui konferensi video, Kamis (4/6).

Muhadjir menyatakan 147 pihak di seluruh dunia yang sedang bergerak menciptakan vaksin corona. Namun, pemerintah enggan menaruh harapan semata pada hasil riset tersebut. Alasannya, kemungkinan tiap negara akan memprioritaskan vaksin untuk kebutuhannya masing-masing terlebih dahulu.

Apalagi kebutuhan vaksin Indonesia sangat besar untuk 270 juta penduduk. "Kita juga harus siap-siap lakukan riset tentang vaksin untuk Indonesia sendiri," kata Muhadjir.

(Baca: Masa Transisi PSBB, Kasus Corona Jakarta Telah Melandai Sejak April)

Tak hanya vaksin, pemerintah juga mendorong produksi alat uji corona dengan metode polymerase chain reaction (PCR). Dengan demikian, Indonesia tak perlu lagi mengimpor alat tersebut dari negara lain.

"Khusus untuk alat usap PCR, Muhadjir mengaku Indonesia belum bisa memproduksinya sendiri. "Karena itu Presiden meminta segera bisa dipenuhi, sehingga dalam waktu yang tidak lama kita bisa menggunakan produk dalam negeri sendiri yang itu sebetulnya kualitasnya sudah teruji secara medis," kata Muhadjir.

Lebih lanjut, pemerintah akan menyederhanakan merek piranti tes corona yang ada saat ini. Hal itu dilakukan agar proses pengujian corona ke depannya tidak menjadi semrawut.

Muhadjir mengatakan, banyaknya merek piranti tes yang dipakai Indonesia membuat pelaksanan uji corona terhambat. "Karena sering banyak sekali antara medium pengangkut virus dengan reagen ekstraksinya tidak match karena mereknya beda," kata dia.

(Baca: Belum Ada Vaksin Corona, Pengunjung Mal Tidak akan Langsung Normal)

Advertisement
Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait