Sri Mulyani Lihat Sinyal Kuat Pemulihan Ekonomi dari Konsumsi Listrik

Pertumbuhan konsumsi listrik sektor industri dan bisnis mengalami lonjakan.
Image title
20 Juli 2020, 19:15
konsumsi listrik, sri mulyani, pemulihan ekonomi,
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.
Menteri Keuangan Sri Mulyani berjalan memasuki ruangan untuk mengikuti rapat kerja tertutup dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2020).

Pemerintah menilai peningkatan konsumsi listrik pada Juni 2020 merupakan ada sinyal pemulihan ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan total konsumsi listrik pada Mei 2020 turun 10,7%. Namun, konsumsi listrik meningkat 5,4% pada Juni.

"Dari konsumsi listrik juga terlihat adanya indikator yang cukup solid, menujukkan turn around di ekonomi kita," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers laporan semester I 2020 dan APBN Kita Juli, Senin (20/7).

Perinciannya pertumbuhan konsumsi listrik sektor industri mengalami lonjakan yaitu sebesar 3,7% pada Juni dibandingkan bulan sebelumnya yang minus 33,1%. Hal ini mencerminkan adanya peningkatan produksi barang dan jasa.

Selain itu, pertumbuhan konsumsi listrik pada sektor bisnis juga menunjukkan peningkatan. Pada Juni, pertumbuhan konsumsi listrik sektor bisnis sebesar minus 10,5% atau mengalami perbaikan dari bulan sebelumnya minus 22%.

Advertisement

Sementara, pertumbuhan konsumsi listrik rumah tangga pada Juni sebesar 12,7% atau meningkat tipis dari bulan sebelumnya 9,7%. "Jadi sisi demand atau rumah tangga tumbuh lebih flat, sedangkan supply pada sektor bisnis, industri dan publik leboh fluktuatif," ujar dia.



Secara keseluruhan, ia mengatakan tanda pemulihan ekonomi tercermin dari kinerja APBN Juli 2020 dan indikator lainnya. Salah satu indikatornya, penurunan imbal hasil surat utang (yield) yang mencerminkan kenaikan harga surat utang. Selain itu, nilai tukar rupiah menunjukkan perbaikan, bahkan mengalami apresiasi.

Seiring dengan hal tersebut, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2020 berkisar minus 0,4 hingga 1%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi triwulan II diperkirakan pada kisaran minus 3,54% sampai minus 5,08. "Kita harus menjaga pemulihan ekonomi, agar gini rasio kita tidak mengalami penurunan," ujar dia.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait