Imbas Pandemi, Realisasi Investasi Migas Semester I Hanya 39%

Pandemi corona telah membuat harga minyak mentah dunia anjlok sejak awal Maret 2020 yang berimbas pada lesunya investasi di sektor migas.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
5 Agustus 2020, 16:06
Dirjen Migas, Ego Syahrial di Jakarta, Jumat, (08/09).
Arief Kamaludin|KATADATA
PLT Dirjen Migas, Ego Syahrial di Jakarta. Efek pandemi membuat investasi migas belum memenuhi target.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi investasi sektor hulu minyak dan gas pada semester I 2020 sebesar US$ 5,6 miliar atau 39% dari target tahun ini yang sebesar US$ 14 miliar. Belum tercapainya target investasi efek pandemi virus corona atau Covid-19.

"Kami memang sempat menargetkan investasi di sektor hulu migas sekitar US$ 14,5 miliar saat di awal, namun realisasi saat ini memang baru mencapai sekitar US$ 5,6 miliar sehingga masih jauh sekali di mana baru sepertiga dari target," ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial dalam konferensi pers daring di Jakarta, Rabu (5/8).

Ego mengatakan pandemi corona telah membuat harga minyak mentah dunia anjlok sejak awal Maret 2020 yang berimbas pada lesunya investasi migas. Perincian realisasi investasi di paruh pertama tahun ini yakni dari sektor hulu sebesar US$ 4,84 miliar dan sektor hilir sebesar US$ 712,2 juta.

Adapun realisasi penerimaan negara dari sektor migas mencapai 74% dari target Rp 56,41 triliun. Target tahun ini merupakan hasil revisi APBN 2020. Untuk lifting migas, saat ini mencapai sekitar 713 ribu barel minyak per hari (BOPD) dan dinilai memenuhi setelah ada revisi target lifting migas 2020.

Berdasarkan revisi APBN 2020,  target lifting migas yang awalnya sebanyak 775 ribu BOPD kemudian direvisi menjadi sekitar 705 ribu BOPD.

Ego mengatakan meski ekonomi Indonesia per kuartal II minus akibat pandemi corona, dia optimistis roda perekonomian Indonesia mulai membaik pada kuartal III.

Kementerian ESDM akan terus berupaya menjaga agar aktivitas dan iklim investasi hulu migas tetap berjalan optimal di tengah menghadapi situasi pandemi global. Dia mengatakan pandemi Covid-19 sangat berpengaruh bukan hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Seluruh perusahaan besar dunia melakukan pemotongan capital expenditure dengan kisaran rata-rata hampir 30%.

"Yang paling penting bagi kami adalah harus terus menjaga iklim hulu migas jangan sampai ada penutupan sumur migas karena kalau sampai ini terjadi, hal itu merupakan sebuah kegagalan. Sampai sekarang di Indonesia belum ada sumur migas yang ditutup," kata Ego.

Pemerintah pun telah menyiapkan beberapa startegi untuk mendorong penyerapan tenaga kerja, salah satunya yakni dengan terus membangun jaringan gas. "Yang paling penting adalah di industri hulu migas jangan sampai ada PHK," katanya.

Sepanjang 2019 lalu nilai investasi migas mencapai US$ 31,9 miliar. Nilai tersebut meleset dari target awal yang ditetapkan, yakni US$ 33,4 miliar. Bahkan, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 32,9 miliar. Berikut grafik nilai investasi dalam databoks:

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait