Filipina Masuk Jurang Resesi Efek Karantina Ketat selama Pandemi

Pemerintah Filipina diminta untuk segera merealisasikan paket stimulus pengurangan pajak perusahaan.
Yuliawati
Oleh Yuliawati
6 Agustus 2020, 15:25
Filipina, pandemi corona, resesi
ANTARA FOTO/REUTERS/Eloisa Lopez/AWW/dj
Seorang pria memakai masker dan pelindung wajah sebagai perlindungan dari virus corona saat mengantre untuk menaiki bus antar provinsi, sehari sebelum ibukota Filipina kembali menerapkan pembatasan ketat ditengah meningkatnya infeksi COVID-19, di terminal transportasi umum di Kota Paranaque, Metro Manila, Filipina, Senin (3/8/2020).

Filipina masuk dalam jurang resesi pertama kalinya sejak 29 tahun terakhir akibat karantina wilayah selama pandemi virus corona atau Covid-19. Produk Domestik Bruto negara tersebut pada kuartal kedua minus 16,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan PDB tersebut lebih rendah dari jajak pendapat Bloomberg terhadap 21 ekonom yang memperkirakan ekonomi negara tersebut akan terkontraksi 9,4%. PDB Filipina ini minus 15,2% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Analis memperkirakan ekonomi Filipina tahun ini akan minus 5,5% atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang minus 2% hingga minus 3,4%. "Biaya ekonomi untuk menahan virus membuat lubang besar pada neraca rumah tangga dan perusahaan, yang akan sangat membebani permintaan untuk beberapa bulan mendatang," tulis analis Capital Economics Alex Holmes dikutip dari Bloomberg, Kamis (6/8).

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan karantina atau lockdown ketat dengan menutup sebagian besar bisnis dan menangguhkan transportasi umum sejak Maret 2020 hingga Mei 2020. Sejak pelonggaran karantina pada Juni 2020, kasus Covid-19 meningkat lebih dari enam kali lipat.

Jumlah kasus Covid-19 di Filipina pada Rabu (5/8) sebanyak 115.980 orang, atau berada di belakang Indonesia dengan jumlah 116.871 kasus yang merupakan tertinggi di Asia Tenggara.

Lonjakan infeksi Covid-19 mendorong pemerintah Filipina kembali memberlakukan karantina selama dua pekan di wilayah ibu kota dan sekitarnya mulai Selasa kemarin. Penutupan aktivitas ini dikhawatirkan akan semakin memukul ekonomi negara tersebut. Apalagi selama ini pertumbuhan ekonomi mengandalkan konsumsi.

"Dengan rekor pengangguran tinggi yang diperkirakan akan naik dalam beberapa bulan mendatang, kami tidak mengharapkan perputaran cepat dalam perilaku konsumsi, terlebih lagi dengan kasus COVID-19 yang masih meningkat," kata ekonom senior ING Nicholas Antonio Mapa dikutip dari Reuters.

Ekonom mendesak pemerintah dan parlemen segera merealisasikan paket stimulus berupa pemotongan pajak penghasilan perusahaan. Parlemen mengusulkan sekitar 140 miliar peso atau US$ 2,9 miliar, jauh lebih sedikit dibandingkan yang dialokasikan negara lain di Asia Tenggara.

“Harus menjadi peringatan besar bagi otoritas fiskal bahwa paket dukungan perlu segera diimplementasikan dengan ukuran yang lebih sebanding dengan apa yang kita lihat di negara lain," kata Euben Paracuelles, ekonom di Nomura Holdings Plc di Singapura.

Selain Filipina, negara lain di Asia yang masuk jurang resesi yakni Singapura dan Korea Selatan. Pembatasan wilayah dan aktivitas masyarakat di berbagai negara menyebabkan perekonomian banyak negara mengalami kontraksi. Berikut grafik databoks beberapa negara yang pertumbuhan ekonominya minus:

 

Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait