Daya Beli RI Lemah, Pengusaha Bidik Pasar Ritel di Amerika Selatan

Aprindo mendorong Kementerian Keuangan menyelesaikan beleid untuk kredit ekspor.
Image title
7 Agustus 2020, 15:51
ritel, amerika selatan, daya beli lemah
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Sepatu berbahan batik dan tenun ikat dari perajin sepatu Ciapus, Bogor.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyasar pasar ritel di wilayah Amerika Selatan dengan mengajak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengekspor produknya. Ketua Aprindo Roy Mandey mengatakan mereka hendak mendirikan toko yang menjadi trading house sehingga produk UMKM Indonesia dapat terserap di Amerika Selatan.

"Kami akan membuat satu toko Indonesia untuk Karibia, Suriname, ada rencana sampai Los Angeles, dan ini giliran (rencana bangun toko di) Peru," kata Roy dalam sebuah webinar, Jumat (7/8).

Aprindo telah mengumpulkan data para UMKM ritel yang siap ekspor yakni yang memiliki pengemasan yang baik, mempunyai perizinan, branding yang baik, serta produknya terbukti diterima oleh pasar domestik. Dengan cara ini, UMKM dalam negeri diharapkan dapat segera naik kelas.

Penjualan di Amerika Selatan diharapkan dapat menyiasati pasar dalam negeri yang sedang lesu karena penurunan daya beli. Salah satu negara tujuan yakni Peru memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih tinggi dari Indonesia. Berdasarkan data IMF, PDB per kapita Peru pada 2019 mencapai US$ 7.046. Sementara, PDB per kapita Indonesia pada tahun yang sama sebesar US$ 4.160.

Sementara berdasarkan data yang diolah KBRI Lima, total perdagangan Indonesia-Peru pada 2019 sebesar US$ 342 juta. Neraca Indonesia tercatat surplus terhadap Peru sebesar US$ 221,6 juta.

Adapun, total ekspor Indonesia ke Peru mencapai US$ 281,8 juta dengan ekspor terbesar mobil (56%), sepatu (13%), dan kertas (10%). Sementara, impor Peru ke Indonesia menacapai US$ 60,2 juta yang didominasi oleh biji kakako (66%), anggur segar (13%), dan zinc (11%)

Roy pun berharap Kementerian Keuangan dapat segera menyelesaikan beleid untuk kredit ekspor agar rencana tersebut dapat segera direalisasikan.

Direktur Amerika II (Amerika Latin dan Karibia) Kementerian Luar Negeri Darianto Harsono mengatakan pemerintah akan mengupayakan untuk memperluas jangkauan National Interest Account (NIA) atau penugasan khusus.

Adapun NIA merupakan penugasan yang diberikan pemerintah kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indoneia (LPEI/Eximbank) untuk menyediakan pembiayaan ekspor atas transaksi atau proyek yang secara komersial sulit dilaksanakan, tetapi dianggap perlu oleh pemerintah. "Terkait NIA, kami coba tindaklanjuti usulan ke Amerika Latin dan Karibia," ujar dia..

Menurut The Economist Intelligence pasar retail Amerika Latin pada 2020 diprediksi akan naik menjadi 1,4%. Berikut grafik databoks:

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait