Obat Corona Unair cs Dianggap Efektif Bila Sembuhkan Pasien Kritis

Selama vaksin dan obat corona masih belum ditemukan, seluruh masyarakat wajib menjaga protokol kesehatan.
Image title
24 Agustus 2020, 15:34
obat virus corona, pandemi corona, Unair, BIN, TNI AD
ANTARA FOTO/Jojon/foc.
Ilustrasi penelitian untuk membuat obat.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum meloloskan proses uji klinis terhadap obat virus corona yang dikembangkan Universitas Airlangga atau Unair bersama Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI Angkatan Darat (AD). Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Bidang Kemahasiswaan Unika Soegijapranata Semarang, Sugeng Ibrahim, menyebutkan obat corona dapat dikatakan berkhasiat bila mampu menyembuhkan pasien kritis.

Sugeng menyatakan proses pengujian obat yang dikembangkan Unair-BIN-TNI masih terbatas yakni digunakan pada klaster Secapa AD dengan gejala ringan. "Sederhananya bila ada 800 pasien yang sembuh, sebanyak 400 orang menggunakan obat Unair dan yang 400 tidak diberikan apa-apa. Bila hasilnya sama, maka tidak ada gunanya obat ini," kata Sugeng dalam diskusi di Trijaya FM, Senin (24/8).

Sebelumnya, Rektor Unair M. Nasih mengklaim obat tersebut bakal menjadi yang pertama ada di dunia. Temuan tersebut merupakan hasil dari kombinasi sejumlah obat yang telah diuji dalam tiga tahap.

Pertama, kombinasi antara Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin. Kedua, Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline. Kombinasi terakhir merupakan campuran Hydrochloroquine dan Azithromycin.

Ada banyak hal yang masih harus diperbaiki agar obat tersebut dinyatakan valid dan mendapat izin edar BPOM. Selain menganggap sampel masih terbatas, BPOM juga menilai bahwa calon obat dari pengembangan Unair ini belum menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dibandingkan terapi standar lainnya.

Dari sisi efek samping, BPOM menilai obat tersebut masih harus dikaji lebih lanjut. Obat corona merupakan obat keras yang tidak bisa sembarangan diberikan kepada masyarakat. "Memang sangat penting sekali kita melihat dampak dari pemberian dosis yang sudah dirancang dalam riset ini," kata Kepala BPOM Penny Lukito dalam konferensi pers, Rabu (19/8).

Sugeng menyatakan selama vaksin dan obat corona masih belum ditemukan, seluruh masyarakat wajib melakukan tiga hal yakni membunuh virusnya, mengobati pasien yang terinfeksi dan memutus mata rantai penularan virus.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan yakni dengan cara selalu menggunakan masker saat beraktivitas, perbanyak mencuci tangan dan menjaga jarak. "Yang harus dilakukan memang butuh kesabaran karena perilaku hidup sehat tidak mudah," kata dia.

Hingga hari ini, jumlah penderita Covid-19 di Indonesia sebanyak 155.412 orang. Ada 111.060 orang di antaranya telah dinyatakan sembuh (71.46%) dan 6.759 orang meninggal dunia (4.35%), sementara sisanya masih menjalani perawatan.

Selain itu, ada 76.745 orang berstatus orang dalam pemantauan (ODP) dan 0 orang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) yang kini masih dirawat. Berikut grafik dalam databoks:

Advertisement

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait