Erick Thohir Sebut Vaksin Corona untuk 15 Juta orang pada Akhir 2020

Pemerintah juga menghubungi beberapa negara lain untuk kerja sama vaksin Covid-19 seperti AstraZeneca dari Eropa dan Bill and Melinda Gates Foundation dari Amerika Serikat.
Yuliawati
27 Agustus 2020, 15:11
vaksin corona, erick thohir, akhir 2020
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (tengah) saat meninjau fasilitas produksi vaksin COVID-19 di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020).

Indonesia berpotensi mendapatkan 30 juta vaksin virus corona pada akhir 2020 jika uji klinis berjalan dengan baik. Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi (PEN) Erick Thohir mengatakan vaksin tersebut dapat digunakan untuk 15 juta orang.

Saat ini pemerintah bekerja sama dalam proses produksi vaksin Covid-19 dengan dua perusahaan yakni Sinovac dari Tiongkok dan G42 dari Uni Emirat Arab (UEA). Nah, produksi vaksin hasil kerja sama dengan kedua perusahaan yang diperkirakan menghasilkan 30 juta vaksin. Kedua jenis vaksin itu perlu disuntikkan dua kali dengan jeda waktu dua pekan.

"Kalau satu orang memerlukan dua dosis sehingga kurang lebih 15 juta orang yang akan bisa divaksin di akhir 2020," kata Erick dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, Kamis (27/8) dikutip dari Antara.

Menurut Erick, Sinovac berkomitmen menyediakan bahan baku vaksin Covid-19 sebanyak 20 juta dosis pada akhir 2020 dan menambah bahan baku untuk 2021 sebesar 250 juta dosis.  Sedangkan G42 berkomitmen menyediakan 10 juta vaksin pada Desember 2020 dan 50 juta dosis pada kuartal pertama pada 2021.

Program pemberian vaksin Covid-19 tersebut melalui dua skema  yakni lewat bantuan pemerintah dan secara mandiri. Skema bantuan pemerintah akan diberikan gratis menggunakan data BPJS Kesehatan. Kemungkinan pemberian vaksin secara massal itu pada awal 2021 setelah proses uji klinis.

Namun, untuk mengurangi beban APBN, maka dia mengusulkan masyarakat yang mampu agar membayar vaksin secara mandiri.

Kedua vaksin dari perusahaan tersebut memiliki jangka waktu efektivitas enam bulan sampai dua tahun. Jadi vaksin Covid-19 itu tidak efektif untuk selamanya atau vaksin yang hanya diambil sekali seumur hidup.

Erick mengatakan bahwa informasi terakhir memperlihatkan bahwa vaksin itu dapat berlaku untuk usia 18 tahun sampai di atas 59 tahun dan sekarang tengah dikembangkan bagi yang berusia di bawah 18 tahun.

Tidak hanya mendekati Sinovac dan G42, pemerintah juga menghubungi beberapa negara lain untuk kerja sama vaksin Covid-19 seperti AstraZeneca dari Eropa dan Bill and Melinda Gates Foundation dari Amerika Serikat.

Indonesia juga akan tetap mengusahakan pembuatan vaksin domestik melalui Vaksin Merah Putih yang tengah dikembangkan oleh Indonesia. "Tapi tentu yang menjadi prioritas kami, solusi yang ditawarkan vaksin ini masih merupakan solusi jangka pendek," kata Erick.

Saat ini terdapat ribuan obat dan vaksin dalam status uji klinis, berikut grafiknya dalam Databoks:

Advertisement
Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait