Pemberian Vaksin Covid-19 untuk 1,5 Juta Tenaga Medis Diminta Serempak

Image title
3 September 2020, 15:57
vaksin virus corona, Erick Thohir, vaksin untuk tenaga medis
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (kedua kanan) saat meninjau fasilitas produksi vaksin COVID-19 di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). Erick mengatakan akan memprioritaskan vaksin corona untuk para tenaga medis.

Pemerintah berjanji memprioritaskan para tenaga medis sebanyak 1,5 juta orang mendapat vaksin virus corona. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta vaksin untuk para tenaga medis diberikan serempak dalam waktu kurun 6 bulan agar bekerja efektif.

Ketua Pelaksana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Erick Thohir mengatakan akan mendahulukan para tenaga medis karena mereka merupakan petugas terdepan dalam menghadapi pandemi corona. "Sebanyak 1,5 juta orang ini juga yang harus dipastikan mendapatkan vaksin duluan karena mereka yang terdepan, para pahlawan," kata Erick yang juga merupakan Menteri BUMN dalam konferensi pers virtual, Kamis (3/9).

Erick mengatakan bahwa data tenaga medis yang akan menerima vaksin akan terus dikonsolidasikan dengan dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Satgas menerima masukan seperti kriteria tenaga medis yang perlu mendapatkan vaksin lebih dulu, sehingga tak ada kesalahan. "Bagaimana kriteria dokter dan perawat karena dokter sendiri kan bermacam-macam," kata Erick.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PB IDI Daeng Mohammad Faqih mengatakan bahwa organisasi profesi di bidang kesehatan siap membantu pemerintah, terutama dalam pelaksanaan teknis vaksinasi yang ditargetkan bisa dimulai awal tahun depan. "Kami akan konsolidasi membantu komite dan satgas, hingga tiba saat penyuntikan vaksin. Kami siap berkoordinasi sampai tingkat kabupaten, bahkan kecamatan,” ujar Daeng.

Dia mengatakan bahwa perlu adanya saling membantu dengan bergotong royong agar proses vaksinasi ini bisa serempak dan paling lambat dalam waktu enam bulan. Hal itu karena jangka waktu efektif vaksin antara 6 bulan hingga 2 tahun saja. "Kekuatan melindungi vaksin ada keterbatasan waktu, itu 6 bulan untuk terlindungi. Sehingga vaksinasi yang diharapkan membuat Covid reda, itu harus serempak," katanya.


Pemberian vaksin untuk tenaga medis ini merupakan bagian dari alokasi vaksin gratis untuk 93 juta orang. Selain para tenaga medis, vaksin gratis akan diberikan kepada masyarakat tak mampu yang membutuhkan. Erick sebelumnya mengatakan masyarakat yang mampu dapat membeli vaksin dengan dana pribadi.

Erick mengatakan untuk vaksinasi kepada 160 hingga 190 juta penduduk Indonesia, pemerintah membutuhkan dana sekitar US$ 4,5 miliar atau Rp 66 triliun. Erick berharap tahap pertama vaksin dapat didistribusikan pada Januari 2021 hingga Februari 2021. Pemberian vaksin perlu dilakukan dua kali dengan kisaran harga US$ 15 per vaksin.

Kasus corona di Indonesia terus bertambah, hingga 3 September 2020 total Kasus mencapai 184.268 dengan 132.055 pasien dinyatakan sembuh dan 7.750 orang meninggal dunia. Berikut grafik Databoks:


Lonjakan kasus corona di Tanah Air membuat pemerintah menggandeng perusahaan farmasi dunia dalam menyediakan kebutuhan vaksin, di antaranya lewat Biofarma bekerja sama dengan Sinovac Biotech Ltd. Saat ini vaksin Biofarma-Sinovac berada di tahap fase ketiga yang telah disuntikkan kepada 500 relawan.

Setelah proses uji klinis tahap ketiga selesai, BPOM akan memberikan izin penggunaan darurat (emergency use authorization) kepada Bio Farma dan Sinovac untuk pengembangan produk secara komersial.

Selain mengawasi vaksin Bio Farma-Sinovac, BPOM juga melakukan pendampingan pengembangan vaksin Kalbe Farma yang bekerja sama dengan Sinopharm dan Group42 dari Uni Emirat Arab. Melalui kerjasama tersebut, Uni Emirat Arab juga telah berkomitmen untuk menyediakan 10 juta vaksin Covid-19 pada akhir 2020.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait