Pfizer Perluas Uji Vaksin Corona, AstraZeneca Lanjutkan Uji Klinis

Perusahaan farmasi Amerika Pfizer bersama dengan mitra dari Jerman BioNTech rencana memperluas uji klinis fase ketiga dengan melibatkan 44.000 peserta.
Yuliawati
14 September 2020, 16:04
Ilustrasi vaksin antivirus corona
123RF.com/Lightfieldstudios
Ilustrasi. Beberapa negara melakukan penelitian untuk mengembangkan vaksin antivirus corona (Covid-19).

Perusahaan farmasi dunia terus melanjutkan uji klinis vaksin virus corona. Perusahaan farmasi Amerika Pfizer bersama dengan mitra dari Jerman BioNTech rencana memperluas uji klinis fase ketiga dengan melibatkan 44.000 peserta dari target awal 30.000 orang.

Selain itu, uji coba vaksin AstraZeneca fase ketiga yang sempat dihentikan sementara dilanjutkan kembali setelah mendapat izin dari otoritas Inggris.

Pfizer-Biontech memasukkan populasi pasien yang lebih beragam, termasuk kalangan remaja berusia 16 tahun. Perusahaan perlu mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration.

Perluasan uji klinis akan memungkinkan perusahaan untuk mengumpulkan lebih banyak data tentang keamanan dan kemanjuran kandidat vaksin sambil mendiversifikasi kelompok peserta. "Saya pikir kami harus berusaha untuk memiliki populasi yang lebih beragam," kata CEO Pfizer Albert Bourla dikutip dari CNN , Senin (14/9).

Bourla mengatakan dari populasi peserta uji klinis secara global, mayoritas orang yang dilibatkan yakni 60% merupakan orang-orang dari Amerika dan Eropa. Sisanya berasal dari wilayah lain.

Bourla mengatakan kepada CBS bahwa ada "peluang yang cukup bagus" bahwa tim yang menguji kandidat vaksin akan mengetahui keberhasilannya pada akhir Oktober. Dr. Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS yang sedang mengerjakan kandidat vaksin bersama Moderna, mengatakan bahwa dia tetap optimistis secara hati-hati bahwa vaksin akan siap pada akhir tahun.

Uji coba vaksin AstraZeneca yang bekerja sama dengan Universitas Oxford kembyang ali dilanjutkan setelah dihentikan sementara akibat seorang relawan jatuh sakit. AstraZeneca mengatakan pihaknya telah mengantongi izin dari United Kingdom’s Medicines Health Regulatory Authority, yang menyatakan aman untuk melanjutkan uji klinis.

AsreaZeneca hingga kini tutup mulut mengenai penyebab dihentikannya pengembangan vaksin. Saat ini mereka  sedang menyelidiki potensi penyakit yang tak disebutkan dari uji coba tersebut.

“Perusahaan akan terus bekerja sama dengan otoritas kesehatan di seluruh dunia dan dipandu kapan uji klinis lain dapat dilanjutkan untuk menyediakan vaksin secara luas, adil dan tanpa mengambil keuntungan selama pandemi ini,” kata AstraZeneca dikutip dari CNBC pada Sabtu (12/9).

Pengembangan vaksin virus corona AstraZeneca-Oxford diperkirakan melibatkan 18 ribu relawan. “Pada uji coba besar seperti ini, diperkirakan beberapa relawan akan menjadi tidak sehat dan setiap kasus harus dievaluasi dengan cermat untuk memastikan penilaian keselamatan,” kata Oxford.

CEO AstraZeneca Pascal Seriot mengatakan “potensi penyakit yang tidak dapat dijelaskan” terjadi pada seorang perempuan di Inggris. Relawan tersebut menunjukkan gejala neurologis dengan gangguan inflamasi tulang belakang atau disebut transverse myelitis.

Melalui wawancara dengan STAT News, Soriot mengonfirmasi bahwa uji coba vaksin AstraZeneca juga sempat diberhentikan pada Juli lalu setelah seorang relawan mengalami gejala neurologis. Meskipun dalam pemantauannya, penyakit tersebut tidak berhubungan dengan uji coba vaksin yang diinjeksikan.

Vaksin AstraZeneca-Oxford merupakan salah satu kandidat vaksin corona yang aman dan efektif selain Pfizer dan Moderna.
Pejabat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan AstraZeneca merupakan salah satu kandidat vaksin yang paling menjanjikan dalam pengembangannya. Chief Scientist WHO Dr. Soumya Swaminathan mengatakan tidak perlu berkecil hati tentang uji coba yang dihentikan sementara.

“Menurut saya ini bagus sehingga menjadi pelajaran bagi semua orang untuk menyadari fakta terdapat pasang surut dalam penelitian, ada pasang surut dalam uji klinis dan kita harus siap untuk hal itu,” ujar Swaminathan.

Diketahui Amerika Serikat telah menginvestasikan US$ 10 miliar dalam enam riset pengembangan vaksin virus corona. Pada 21 Mei silam, AS mengumumkan akan investasi sebesar US$ 1,2 miliar untuk AstraZeneca dengan imbalan 300 juta dosis vaksin yang aman dan efektif.

Saat ini di dunia terdapat ratusan penelitian terkait vaksin corona. Perusahaan farmasi berlomba-lomba menemukan ramuan vaksin yang aman dan cepat mengatasi pandemi. Berikut Databoks daftar kandidat vaksin corona:

 

Penyumbang bahan: Agatha Lintang

Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait