Riset: Pandemi Datang saat Konglomerasi Bisnis di ASEAN Sedang Surut

Salah satu konglomerat Indonesia mengalokasikan 150 orang untuk mengembangkan platform digital yang menghubungkan dengan seluruh konsumen sektor bisnisnya.
Yuliawati
17 September 2020, 17:04
konglomerat, bisnis, asia tenggara
ANTARA FOTO/ REUTERS/Edgar Su/hp/dj
Pemandangan perahu yang nyaris kosong dekat Merlion Park, saat pariwisata harus menghadapi penurunan curam akibat mewabahnya virus corona (COVID-19), di sepanjang Marina Bay, Singapura, Kamis (26/3/2020).

Pandemi Covid-19 telah memukul perekonomian berbagai pelaku usaha, termasuk para konglomerat di kawasan Asia Tenggara. Pandemi ini pun menjadi pukulan ganda bagi para konglomerat karena pertumbuhan bisnisnya sebenarnya sudah mulai melambat sejak lima tahun terakhir.

Berdasarkan hasil riset lembaga konsultan manajemen Bain & Company bertajuk “Southeast Asia Conglomerates’ Watershed Moment”, beberapa konglomerat di Asia Tenggara berhasil beradaptasi dengan pandemi. Para konglomerat yang perusahaan dikendalikan oleh keluarga dalam jangka panjang ini memiliki kemampuan bertahan menghadapi krisis.

“Kami telah melalui banyak krisis, dan kami akan pergi untuk berada di sekitar setelah pandemi ini. Kami berada di sini untuk jangka panjang,” ujar salah satu konglomerat terkemuka Indonesia, dikutip dari laporan konsultan manajemen yang berkantor pusat di Boston, Amerika Serikat tersebut, Kamis (17/9).

Beberapa konglomerat memiliki kinerja baik dengan imbal hasil investasi bagi para pemegang sahamnya atau total share return sebesar 24% sepanjang 2010-2018. Beberapa konglomerasi usaha yang disebut Bain adalah Sinar Mas Group (Indonesia), CP Group (Thailand dan Hong Kong), dan JG Summit (Filipina).

Sikap konglomerat seperti ini membuat mereka sukses memilih sektor binis yang tepat. Selain itu, perusahaan dapat menjadi “bintang” dalam setiap situasi yang terjadi.

Salah satu eksekutif senior asal Indonesia mengatakan, cara menyelamatkan perusahaan dari krisis adalah dengan mengurangi biaya, mengelola likuiditas dan neraca secara agresif. Pandemi menciptakan peluang bagi konglomerat untuk melakukan big data analytics dalam meningkatkan pelayanan.

“Ini bisa menjadi investasi dalam digitalisasi, sistem operasi otomatis, dan ketahanan rantai pasok. Bahkan salah satu konglomerat Indonesia memberikan 150 orang untuk mengembangkan platform digital yang menghubungkan dengan seluruh konsumen sektor bisnisnya,” kata Jean-Pierre Felenbok, Managing Partner Bain & Company Asia Tenggara, dalam laporan tersebut.



Selain digitalisasi, beberapa konglomerat juga menerapkan strategi untuk menghadapi krisis akibat pandemi. Bagi konglomerat yang telah siap dan memiliki neraca kuat, situasi saat ini mempercepat perjalanan menjadi pemimpin dalam industri.

“Beberapa bulan setelah krisis, kami berada dalam mode eksekusi pada rencana aksi kami dan sekarang mengarahkan pandangan kami pada peluang merger dan akuisisi,” kata salah satu eksekutif konglomerat Malaysia dalam laporan tersebut.


Bain & Company mengatakan pandemi sebagai momentum penting yang menentukan masa depan perusahaan. Ada beberapa saran yang dapat dilakukan perusahaan untuk bertahan di masa pandemi ini.

1. Memangkas pengeluaran.

2. Menata ulang rantai pasok.

3. Berinvestasi dalam digitalisasi..

4. Cara kerja baru yang lebih cepat dalam menangani krisis karena memerlukan penanganan real-time.

5. Menyusun ulang portofolio setelah pandemi karena prospek industri akan berubah secara luas pasca-pandemi.

Melemahnya Bisnis Konglomerat

Bain & Company meriset perusahaan konglomerat di Asia Tenggara selama 16 tahun belakangan. Riset itu menemukan, pada periode 2004-2014 para konglomerat berhasil mengungguli pertumbuhan pebisnis nonkonglomerasi atau perusahaan yang berfokus pada produk tertentu.

Namun, setelah 2015 atau dalam lima tahun terakhir, kondisinya berbalik dan bisnis para konglomerat melemah. Penyebabnya pasar telah berubah menjadi lebih kompetitif.

Padahal, kunci kesuksesan konglomerasi usaha selama ini adalah keunggulan dari sisi ukuran bisnisnya, diversifikasi (multisektor), dan kedekatan dengan pemerintah.

"Tapi kini menjadi kerugian (bagi para konglomerat). Untuk pertama kalinya, pebisnis murni mengalahkan konglomerat,” tulis laporan tersebut.

Berdasarkan imbal hasil investasi yang diperoleh pemegang saham pada 2014, pengusaha  konglomerat unggul 3 poin dibandingkan pebisnis nonkonglomerasi. Namun, sejak 2015, imbal hasil investasi para konglomerat justru kalah 6 poin dari pebisnis biasa. 

Peneliti melihat banyak konglomerat yang tidak beradaptasi dengan perubahan. Mereka juga gagal dalam mengalihkan fokus usahanya melalui merger dan akuisisi. Padahal berdasar pengamatan, ekspansi inilah yang menyumbang 5% dari 8% keuntungan imbal hasil investasi tahunan pebisnis nonkonglomerasi sepanjang 2014 hingga 2018.

Laporan itu menyebutkan hanya pengusaha yang berkinerja baik dan mengambil tindakan tegas untuk menata ulang portofolio mampu menjadi pemimpin di industri mereka. "Mayoritas konglomerat Asia Tenggara ragu, daya kompetisi lemah dan eksposur tinggi dengan industri yang pertumbuhannya rendah.”

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait