Banyak Negara Gunakan Aplikasi Pelacakan Covid-19, Apakah Efektif?

Agar berfungsi optimal, aplikasi pelacakan Covid-19 perlu digunakan sebagian besar masyarakat.
Yuliawati
29 September 2020, 12:41
pandemi corona, virus corona, covid-19, aplikasi tracing
ANTARA FOTO/REUTERS/Phil Noble/hp/cf
Warga berjalan melewati ilustrasi virus di luar pusat sains regional di Oldham, Britain, Senin (3/8/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Beberapa negara menggunakan aplikasi tracing untuk memperluas jangkauan pelacakan penularan virus corona atau Covid-19. Aplikasi ini membantu pengguna mengetahui kontak dengan pasien corona.

Pemerintah Inggris meluncurkan aplikasi National Health Service (NHS) pada Kamis (24/9). Aplikasi yang menggunakan sinyal bluetooth ini akan memperingatkan pengguna jika dalam jarak dua meter selama 15 menit bertemu dengan orang yang positif Covid-19 yang juga menggunakan aplikasi tersebut.

Pasien positif dapat mengunggah data mereka secara anonim ke dalam aplikasi. Data ini yang menjadi dasar peringatan bila pengguna aplikasi berkontak dengan pasien yang mengunggah data mereka. Agar berfungsi optimal, aplikasi ini perlu digunakan sebagian besar masyarakat.

Pemimpin Lembaga Riset Kebijakan Ada Lovelace Institute, Imogen Parker, mengatakan penggunaan aplikasi ini tergantung dari tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Aplikasi ini akan bekerja efektif bila  60% sampai 80% pengguna smartphone mengunduh, menggunakan, dan mengikuti perintah dari aplikasi.

"Skenario terbaik ada di angka 40%. Hal itu ditemukan di Singapura dan Islandia yang mayoritas penduduknya tinggal di perkotaan dan telah menggunakan aplikasi lebih lama,” kata Parker dikutip dari Guardian, Senin (28/9).

Publik masih mengkahawtirkan privasi data pada aplikasi pelacakan tersebut. Meskipun teknologi Bluetooth  yang digunakan dianggap lebih aman karena tidak mengungkap identitas kepada pengguna lain.



Finlandia juga menerapkan platform berbasis teknologi Bluetooth yang memungkinkan pasien positif Covid-19 untuk mengirimkan peringatan ke pengguna yang berkontak sebelumnya. Tentu saja tanpa informasi dari mana peringatan tersebut berasal, untuk menghormati privasi para penggunanya.

“Setiap orang dapat menggunakan secara sukarela dan data sepenuhnya aman. Sehingga kami dapat melindungi diri kami sendiri dan orang-orang terdekat kami,” kata Kirsi Varhila, sekretaris tetap di Kementerian Sosial dan Kesehatan Finlandia dikutip dari Reuters.

Pemerintah Singapura telah meluncurkan aplikasi pelacakan kontak pada Maret silam. Aplikasi “Trace Together” tersebut telah diunduh oleh 2,4 juta pengguna. Menurut Kementerian Kesehatan Singapura, aplikasi tersebut membuat proses pelacakan menjadi lebih efektif. Lewat aplikasi tersebut, waktu untuk identifikasi dan pelacakan kontak kasus COVID-19 berkurang dari empat hari menjadi dua hari.

Pemerintah Singapura juga membagikan token pelacak kontak kepada 5 juta penduduknya yang tak dapat menggunakan smartphone untuk mengakses aplikasi tracing. Perangkat tersebut menggunakan Bluetooth dan dapat dibawa untuk mencari perangkat pengguna lain dan mencatat setiap kontak dari perangkat yang terhubung. Token diprioritaskan untuk kelompok lansia yang lebih rentan terpapar Covid-19 dan tidak dapat menggunakan ponsel pintar.

Tiga skenario pandemi
 

 

 

Penyumbang bahan: Agatha Lintang

Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait