Tes Cepat Antigen dari WHO yang Akurat Deteksi Virus Corona

Tes cepat antigen memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi dibandingkan tes cepat menggunakan antibodi.
Image title
Oleh Rizky Alika
2 Oktober 2020, 10:15
rapid test, tes cepat antigen, rapid test antibodi, virus corona
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/wsj.
Antrean siswa sekolah untuk menjalani tes cepat atau rapid test COVID-19 di SMAN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (27/7/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan meluncurkan 120 juta tes cepat (rapid test) antigen kepada 133 negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pemerintah pun mengajukan bantuan untuk mendapatkan akses tes cepat tersebut.

Tes cepat antigen akan mendeteksi keberadaan antigen virus corona pada sampel yang berasal dari saluran pernapasan. Antigen akan terdeteksi ketika virus aktif bereplikasi. Jenis sampel yang diambil dari metode ini adalah lendir dalam hidung atau tenggorokan.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito berharap penggunaan tes cepat antigen dapat mendeteksi Covid-19 lebih cepat pada masyarakat yang terpapar. Sehingga pemerintah dapat bertindak segera mengurangi penyebaran.

Wiku menyebutkan tes cepat antigen memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi dibandingkan tes cepat menggunakan antibodi. Sebab, tes cepat antigen dilakukan dalam rangka proses penyaringan, selanjutnya dilakukan tes diagnosa dengan real time polymerase chain reaction (RT-PCR).

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom sebelumnya mengatakan lembaganya akan menyediakan memproduksi sejumlah 120 rapid tes antigen untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah. Melalui alat ini, hasil tes bisa diperoleh dalam waktu 15-30 menit.

“Rapid tes berkualitas tinggi ini bisa mendeteksi virus, yang merupakan kunci memutus rantai penularan dengan melacak dan mengisolasi kontak virus. Ini merupakan alat penting untuk pemerintah saat mereka sedang membuka kembali ekonomi dan menyelamatkan mata pencaharian,” kata Tedros dikutip dari CNN pada Selasa (29/9).

Saat ini pemerintah menggunakan rapid test antibodi untuk melacak pengidap virus yang berawal dari Wuhan tersebut. Jenis sampel yang diambil dari metode rapid test adalah darah dari jari atau pembuluh vena. Hasilnya akan keluar sekitar 15 menit.

Rapid test antibodi tersebut memeriksa virus menggunakan antibodi IgG dan IgM yang ada di dalam darah. Antibodi itu terbentuk di tubuh saat kita mengalami infeksi virus.



Jadi, jika di tubuh terjadi infeksi virus, maka jumlah IgG dan IgM di tubuh akan bertambah. Hasil rapid test dapat memperlihatkan adanya IgG atau IgM dalam darah.

Jika ada, maka hasil rapid test dinyatakan reaktif. Namun, hasil tersebut bukanlah diagnosis yang menggambarkan infeksi Covid-19.

Maka, orang dengan hasil rapid test reaktif akan dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, yaitu pemeriksaan swab tenggorokan atau hidung. Pemeriksaan swab dengan metode PCR lebih akurat karena virus corona akan menempel di bagian dalam hidung atau tenggorokan saat masuk ke tubuh.

Satgas Penanganan Covid-19 kerap mengingatkan masyarakat untuk patuh dan disiplin menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Karena, kunci utama memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 adalah menerapkan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Protokol kesehatan yang diterapkan kolektif dapat efektif mencegah penularan. "Bila kita sudah patuh pada protokol kesehatan, jangan lupa mengingatkan orang lain untuk patuh pada protokol kesehatan," ujar Wiku.

 

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait