Mirip Regeneron, Terapi Covid-19 Grup Takeda Masuki Uji Klinis Ke-3

Grup Takeda sedang menguji terapi globulin hiperimun yang berasal dari plasma darah pasien yang sudah sembuh dari Covid-19.
Yuliawati
13 Oktober 2020, 14:12
plasma darah, obat corona, obat covid-19
ANTARA FOTO/REUTERS/Andrew Kelly/AWW/dj
Warga duduk di bagian yang digarisi, dibuat untuk mempromosikan jarak sosial sebagai upaya memerangi penyebaran virus corona (COVID-19), sambil menikmati pemutaran film yang menjadi bagian dari Movir Nights bersama Tribeca Film Festival di Backyard, Hudson Yard, Manhattan, New York, Amerika Serikat, Sabtu (26/9/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Perusahaan farmasi terbesar di Jepang Grup Takeda Pharmaceutical yang mengembangkan obat Covid-19 dari plasma darah, mulai memproduksi uji klinis tahap tiga untuk menentukan keampuhan obat tersebut. Riset plasma darah untuk Covid-19 ini juga melibatkan beberapa perusahaan lain seperti CSL Behring, Biotest AG Jerman dan perusahaan lainnya yang dikenal CoVIg Plasma Alliance.

Grup ini mendaftarkan pasien pertamanya dalam uji klinis Tahap 3 pada Jumat setelah tertunda selama berbulan-bulan.
CEO Takeda Christopher Weber mengatakan pihaknya berencana mendaftarkan 500 pasien dewasa dari Amerika Serikat, Meksiko serta 16 negara lainnya dan berharap mendapatkan hasilnya akhir tahun ini.

"Peluang untuk berhasil sangat tinggi. Itulah alasannya kami meluncurkan kampanye agar mempercepat donasi plasma konvalesen untuk membuat sekaligus memproduksi produk ini," kata Weber dikutip Reuters, Selasa (13/10).

CoVIg Plasma Alliance sedang menguji terapi globulin hiperimun yang berasal dari plasma darah pasien yang sembuh dari Covid-19. Terapi globulin hiperimun menghasilkan antibodi standar dan cocok dengan golongan jenis darah apapun.

Hal ini yang membuat riset lebih berkembang dan proses pengobatan lebih mudah ketimbang pengobatan dengan plasma konvalesen. Namun, pengobatan ini lebih mahal dari obat antibodi monoklonal seperti yang dikembangkan Regeneron Pharmaceuticals dan Eli Lilly and Co.

Weber mengatakan tidak mengetahui jumlah dosis obat yang mampu dihasilkan oleh grup tersebut pada akhir tahun ini. Hal ini bergantung pada donasi serta ukuran dosis yang mereka tetapkan dalam uji klinis.

Uji klinis tersebut akan menguji terapi globulin hiperimun yang digabungkan dengan obat antivirus remdesivir milik Gilead Sciences dibandingkan dengan pasien yang mengonsumsi remdesivir saja.

Pengobatan berbasis plasma darah naik pamor setelah Presiden AS Donald Trump sembuh dari Covid-19 dengan mendapatkan pengobatan plasma darah yang diproduksi Regeneron. Trump menggunakan Regeneron yang dikombinasikan dengan remdesivir.

Ia pun menggembar-gemborkan manfaat dari terapi tersebut. Dalam sebuah video yang diambil di luar Gedung Putih, Trump memuji terapi Regeneron karena dia merasa jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali didiagnosis Covid-19.

Trump pun berjanji memberikan terapi obat itu secara gratis kepada warga AS. Selain itu, dia mendorong Food and Drug Administration (FDA) memberikan izin otorisasi penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk mengizinkan perawatan dengan obat antibodi Regeneron.



Mitra Regeneron, Eli Lilly, pada Rabu (7/10) menyatakan pihaknya telah uji coba tahap tengah terapi antibodi kombinasi. Hasilnya menunjukkan bahwa terapi tersebut membantu memotong rawat inap dan kunjungan ruang gawat darurat untuk pasien Covid-19.

Regeneron sejauh ini telah menerima US$ 450 juta dari pemerintah AS untuk pesanan 300 ribu dosis koktail antibodi ganda. Perusahaan mengatakan pasokan itu akan didistribusikan secara gratis.

Adapun metode antibodi Regeneron merupakan gabungan dua antibodi monoklonal. Salah satu antibodi bakal menjadi senjata utama yang menghasilkan sistem kekebalan untuk melawan infeksi.

Hingga saat ini belum ada obat yang 100% teruji menyembuhkan Covid-19. Oleh karena itu Satgas Penanganan Covid-19 mengingatkan masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kunci utama memutus mata rantai penyebaran virus corona adalah Gerakan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Beberapa jurnal internasional menyatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko penularan sebesar 35%. Sedangkan memakai masker kain dapat menurunkan risiko penularan sebesar 45%, dan masker bedah dapat menurunkan risiko penularan hingga 70%. Yang paling utama, menjaga jarak minimal 1 meter dapat menurunkan risiko penularan sampai dengan 85%.

Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait