Uji Klinis Antibodi Covid-19 yang Mirip Digunakan Trump Dihentikan

Perusahaan Johnson & Johnson juga menghentikan uji coba besar-besaran dari pengembangan vaksin Covid-19 setelah seorang relawan sakit.
Yuliawati
14 Oktober 2020, 15:54
Donald Trump, Regeneron, Eli Lilly, uji klinis antibodi
ANTARA FOTO/REUTERS/Ivan Alvarado/AWW/dj
Pekerja industri hiburan mendorong kotak sebagai bentuk protes meminta dukungan dari pemerintah, ditengah penyebaran virus corona (COVID-19) yang masih berlanjut, di Santiago, Chile, Selasa (29/9/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Perusahaan obat asal Amerika Serikat Eli Lilly and Co menghentikan sementara uji coba klinis tahap akhir pengobatan terapi antibodi untuk Covid-19 dengan alasan masalah keamanan. Uji coba ini terhadap antibodi yang menyerupai produksi Regeneron Pharmaceuticals, pengobatan yang digunakan Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini belum dijelaskan lebih lanjut permasalahan keamanan yang terjadi dalam uji klinis tersebut. Reuters menemukan dokumen proses produksi pabrik telah dihapus dan tidak diaudit dengan tepat. “Artinya pelanggaraan yang terjadi cukup serius dan memiliki dampak signifikan pada kesehatan masyarakat sehingga ada sesuatu yang perlu diperbaiki,” kata mantan ketua penasihat FDA Patricia Zettler, dikutip dari Reuters (14/10).

Menanggapi penghentian ini, Lilly mengatakan bahwa pihaknya mendukung keputusan Data Safety Monitoring Broad (DSMB)  yang memprioritaskan keselamatan pasien. “Karena sangat berhati-hati, DSMB ACTIV-3 telah merekomendasikan jeda dalam pendaftaran uji klinis,” kata juru bicara Lilly, Molly McCully.

Uji coba klinis ini terhadap LY-CoV555 buatan Lilly yakni replikasi antibodi pasien yang telah sembuh dari Covid-19. Antibodi monoklonal ini bekerja dengan cara mengenali dan mengunci virus penyerang sehingga melindungi sel sehat di dalam tubuh.

Lilly memulai uji coba ACTIV-3 pada Agustus silam dan merekrut 10.000 pasien di AS. Dalam uji coba tersebut akan membandingkan pasien yang menerima obat antibodi ditambah obat antiviral remdesivir dari perusahaan Gilead Science.

Rencananya, Lilly yang merupakan mitra dari Regeneron pada awal Oktober akan mengajukan Emergency Use  Authorization (EUA) atau penggunaan obat di masa darurat untuk LY-CoV555 pada pasien ringan hingga tahap sedang. Pengajuan ini berdasarkan data uji klinis September yang menunjukkan bahwa obat tersebut dapat memangkas waktu rawat inap dan kunjungan di ruang gawat darurat untuk pasien Covid-19.

Penghentian Uji Klinis Vaksin Johnson & Johnson

Sehari sebelumnya penghentian uji klinis Eli Lilly,  perusahaan farmasi Johnson & Johnson juga menghentikan uji coba besar-besaran dari pengembangan vaksin Covid-19 setelah seorang relawan sakit. Namun, perusahaan tersebut belum mengetahui apakah relawan tersebut diinjeksi vaksin atau plasebo (obat kosong).

Selain itu, uji coba vaksin Covid-19 hasil pengembangan AstraZeneca juga telah ditunda selama lebih dari sebulan. Hal ini dikarenakan seorang relawan asal Inggris jatuh sakit setelah menerima vaksin tersebut. Pada akhirnya, uji coba vaksin dari AstraZeneca dilanjutkan di wilayah  lain setelah mengalami penundaan.

Mantan direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) Dr. Tom Frieden, mengatakan penghentian uji klinis menjadi bukti bahwa produsen obat dan regulator mempertahankan komitmen terhadap prinsip ilmiah, bahkan ketika berada dalam misi mempercepat jadwal pengembangan obat. “Ini memberi jaminan bahwa kami tidak memgambil jalan pintas dalam hal keselamatan,” kata Frieden, dikutip dari CNBC (13/10).

Masyarakat di AS memiliki kekhawatiran terhadap perizinan vaksin Covid-19 yang dipercepat pemerintahan Trump dengan alasan politik. Namun, Frieden menekankan pentingnya masyarakat menunggu lebih banyak informasi sebelum mengambil kesimpulan.

Hingga saat ini belum ada obat yang 100% teruji menyembuhkan Covid-19. Oleh karena itu Satgas Penanganan Covid-19 mengingatkan masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kunci utama memutus mata rantai penyebaran virus corona adalah Gerakan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.



Beberapa jurnal internasional menyatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko penularan sebesar 35%. Sedangkan memakai masker kain dapat menurunkan risiko penularan sebesar 45%, dan masker bedah dapat menurunkan risiko penularan hingga 70%. Yang paling utama, menjaga jarak minimal 1 meter dapat menurunkan risiko penularan sampai dengan 85%.

 Penyumbang bahan: Agatha Lintang

 

Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait