Foodbank Gelar Aksi Beri Akses Pangan untuk Anak yang Kelaparan

Penelitian Foodbank menunjukan sekitar 28% anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari.
Image title
Oleh Tim Redaksi
16 Oktober 2020, 15:45
BANTUAN PENDAMPING MAKANAN TAMBAHAN
ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/hp.
Orangtua menerima bantuan makanan tambahan di Papring, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (4/8/2020).

Krisis ekonomi akibat pandemi corona berpotensi membuat semakin banyak anak-anak di Indonesia menderita kelaparan. Untuk mengatasi itu, Foodbank of Indonesia (FOI) menggelar “Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia” dalam rangka peringatan hari pangan 2020.

Hingga saat ini, terdapat 5.800 Bunda yang tergabung dalam gerakan dan memberi akses pangan untuk 52.000 anak. “Semoga kerjasama semua pihak dapat menghantarkan Indonesia mencapai impian merdeka, merdeka seratus persen,” kata pendiri FOI Hendro Utomo dalam siaran pers Jumat (16/10).

Penelitian FOI menunjukan sekitar 28% anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari. Dalam daerah padat penduduk, angka kelaparan bisa mencapai 40%-50%. Kelaparan ini adalah kondisi perut anak yang kosong atau mempunyai sedikit uang untuk membeli makanan di sekitar sekolah pendidikan anak usia dini.

Dua faktor utama penyebab kelaparan pada balita adalah kemiskinan dan kurangnya pengetahuan tentang pangan pada orang tua atau pengasuh anak. Di keluarga miskin, anak merupakan kelompok paling rentan dalam pendistribusian makanan karena anak bukanlah pengambil keputusan dan kebutuhan pangan yang baik seringkali tergeser oleh kebutuhan lain. Padahal persoalan kelaparan dalam jangka panjang akan menimbulkan kurangnya gizi pada anak.

Selain itu, berdasarkan Indeks Kelaparan Global 2019 (GHI Index), tingkat kelaparan di Indonesia mencapai 20,1 yang artinya masih menghadapi masalah kelaparan yang serius. Menurut PBB, krisis sosial dan ekonomi akibat pandemi mengakibatkan hampir tujuh juta anak di dunia mengalami stunting akibat kekurangan gizi. Situasi keluarga Indonesia yang kehilangan penghasilan pun memperparah kondisi pangan balita.


Ironisnya, Indonesia merupakan negeri bahari dengan potensi kekayaan dan sumber daya laut yang melimpah. Dalam data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tercatat potensi laut Indonesia hingga Maret 2019 mencapai Rp 1.772 Triliun atau setara dengan 93% total pendapatan APBN. Maka, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong konsumsi ikan sebagai alternatif pangan masyarakat sebagai perbaikan gizi dalam mencegah stunting.

“Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) akan mendukung percepatan penurunan stunting sebesar 14% pada tahun 2024. Gemarikan juga memiliki posisi strategis dalam menjawab permasalahan nasional, seperti masalah pangan, kesehatan, dan kecerdasan,” kata Direktur Jenderal KKP Artati Widiarti.

Adapun Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan  (KRKP) mengatakan kerentanan sistem pangan nasional juga menjadi faktor penyebab problem pangan. Pandemi corona menyadarkan bahwa terdapat masalah dalam sistem pangan.

“Pandemi ini memberikan pelajaran penting karena sistem pangan nasional kita sangat rentan, tidak resilien ketika ada guncangan dan belum berkeadilan. Oleh karenanya, momentum hari pangan harus dijadikan tonggak perbaikan sistem pangan nasional,” kata Koordinator KRKP Said Abdullah, dikutip dari Antara (15/10).

Padahal dengan sumber daya pangan yang melimpah serta petani yang kuat, dapat memperkuat sistem pangan berbasis sumber daya lokal. Said menilai kondisi petani Indonesia belum cukup berdaulat dan masih menjadi obyek serta menerima manfaat kecil dari sistem pangan selama ini.

Penyumbang bahan: Agatha Lintang

Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait