Ada Enam Tipe Vaksin Merah Putih, Tiga Perusahaan Swasta Siap Produksi

Tiga perusahaan farmasi mengurus izin ke BPOM untuk cara pembuatan obat yang baik.
Yuliawati
27 Oktober 2020, 17:51
vaksin virus corona, enam vaksin merah putih,
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/nz
Petugas kesehatan menyuntikan vaksin kepada relawan saat simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pemerintah menyebut saat ini enam versi vaksin virus corona Merah Putih untuk penanganan Covid-19 dalam proses penelitian. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan tiga perusahaan swasta telah siap memproduksi vaksin tersebut.

Enam versi vaksin tersebut diteliti enam institusi dalam negeri dengan platform yang berbeda-beda, yakni Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Bandung.

"Karena menggunakan platform yang berbeda-beda otomatis nanti akan muncul enam versi vaksin," kata Bambang dalam konferensi pers virtual yang diadakan di Gedung Graha BNPB Jakarta, Selasa (27/10) dikutip dari Antara.

Eijkman meneliti vaksin menggunakan platform subunit protein rekombinan yang sudah mencapai kemajuan lebih dari 50% dari skala laboratorium dan direncanakan untuk uji praklinik pada hewan pada November 2020. LIPI mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan fusi. Universitas Gadjah Mada mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan.

Universitas Indonesia mengembangkan vaksin dengan platform DNA, mRNA, dan virus-like-particles. Adapun Institut Teknologi Bandung mengembangkan vaksin dengan platform adenovirus, dan Universitas Airlangga mengembangkan vaksin dengan dua platform yakni adenovirus dan adeno-associated virus (AAV).

Bambang menyebut pengembangan vaksin dengan berbagai platrom tersebut sebenarnya mirip dengan yang dilakukan oleh banyak pihak luar negeri seperti AstraZeneca yang menggunakan platform non-replicating viral vector, Moderna yang menggunakan platform RNA.

Sinovac dari Tiongkok yang menggunakan platform inactivated virus, dan CanSino Biological Inc/Beijing Institute of Biotechnology yang menggunakan platform non-replicating viral vector. "Tetapi yang paling penting produksi sama yaitu vaksin Covid-19," ucap Bambang.

Dia mengatakan perbedaan platform yang digunakan dalam pengembangan vaksin Merah Putih untuk Covid-19 tergantung kepada teknologi yang dikuasai oleh masing-masing institusi atau peneliti. "Saat ini enam institusi bekerja masing-masing tetapi pada intinya akhirnya mereka akan keluar dengan vaksin Covid-19 dan kami akan fasilitasi untuk produksinya," tuturnya.

Bambang mengatakan tugas para institusi penelitian atau Kementerian Riset dan Teknologi adalah sampai kepada menghasilkan prototipe atau bibit vaksin Covid-19, kemudian pengembangan lanjutan akan menjadi tanggung jawab PT Bio Farma untuk bisa melakukan uji klinis dan produksi pada vaksin tersebut.

Tiga Perusahaan Siap Produksi 1 Miliar Dosis

Bambang mengatakan sejumlah perusahaan swasta dan tiga di antaranya siap berinvestasi dengan kombinasi kapasitas produksi bisa mencapai satu miliar dosis vaksin Covid-19 per tahun.

Tiga perusahaan swasta tersebut mampu memproduksi hingga satu miliar dosis per tahun. "Artinya Indonesia harusnya ke depan ini menjadi salah satu produsen vaksin utama di dunia, regional, tetapi tentunya sekarang kita fokus dulu pada Covid-19," kata Bambang.

Bambang mengatakan tiga perusahaan swasta yang siap berinvestasi untuk pengembangan vaksin manusia tersebut sudah mulai mengurus izin ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk cara pembuatan obat yang baik (good manufacturing practices).

Bambang itu tidak menyebutkan secara spesifik nama dari tiga perusahaan swasta tersebut. Namun, sejumlah perusahaan swasta dalam potensi kerja sama dengan industri farmasi swasta di bawah koordinasi PT Bio Farma adalah PT Kalbe Farma, PT Sanbe Farma, PT Daewoong Infion, PT Biotis Prima Agrisindo dan PT Tempo Scan Pacific.

Peran perusahaan swasta tersebut penting untuk mendukung kemandirian produksi vaksin terutama vaksin Merah Putih dalam rangka memenuhi kebutuhan vaksin nasional. "Kami bisa pastikan nanti vaksin merah putih 100 persen itu bisa diproduksi dalam negeri dan nantinya menyediakan kebutuhan vaksin Covid-19 tidak hanya tahun ini tapi juga tahun-tahun berikutnya," tutur Bambang.

Ia menuturkan ada kemungkinan daya tahan tubuh yang ditimbulkan pada vaksinasi pertama tidak akan bertahan seumur hidup sehingga perlu ada "booster" atau vaksinasi ulang untuk mencegah infeksi Covid-19 di masa mendatang. Untuk itu, vaksin Covid-19 akan dibutuhkan di waktu-waktu mendatang, sehingga kapasitas produksi harus siap sedia.

Selama belum ada vaksin dan obat Covid-19, masyarakat penting disiplin menerapkan gerakan 3M (mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak) untuk memutus penularan virus corona.

 

Reporter: Antara
Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait