Pfizer Menuai Berkah Bisnis dari Temuan Calon Kuat Vaksin Corona

Amerika dan Uni Eropa memesan vaksin Pfizer dalam jumlah besar.
Image title
11 November 2020, 17:47
vaksin virus corona, pfizer,
123RF.com/Lightfieldstudios
Beberapa negara melakukan penelitian untuk mengembangkan vaksin antivirus corona (Covid-19).

Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Pfizer Inc, menjadi sorotan dunia setelah berhasil membuktikan vaksin virus yang diklaim efektif lebih dari 90% dalam menangkal corona. Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech akan mengupayakan izin penggunaan darurat di Amerika Serikat (AS) yang kemungkinan keluar pada Desember.

Jika izin keluar, mereka siap menyediakan hingga 50 juta dosis vaksin untuk disuntikkan pada 25 juta orang tahun ini. Setelah itu, baru perusahaan akan memproduksi hingga 1,3 miliar dosis vaksin pada 2021.

William Schaffner, ahli penyakit menular di Vanderbilt University School of Medicine di Nashville, Tennessee, menyebut hasil Pfizer lebih baik daripada yang diperkirakan. "Studi ini belum selesai, tapi datanya terlihat sangat solid," kata Schaffner dikutip dari Reuters, Selasa (1o/11).

Pakar penyakit menular terkemuka AS,  Anthony Fauci, pun mengapresiasi perkembangan vaksin ini. "Sebagai vaksin yang lebih dari 90% efektif, luar biasa,” kata Fauci kepada CNN.

Potensi keampuhan vaksin corona ini menggemparkan pasar dunia yang mengerek indeks S&P 500 dan Dow mencapai rekor tertinggi. JPMorgan mengatakan pada hari Senin bahwa mereka memperkirakan indeks S&P 500 akan mencapai 4.000 poin pada awal 2021 dan menyebut vaksin Pfizer dsebagai salah satu latar belakang terbaik untuk keuntungan berkelanjutan dalam beberapa tahun.

Saham Pfizer melonjak lebih dari 8% ke level tertinggi sejak Juli tahun lalu, sementara saham BioNTech mencapai rekor tertinggi. Analis Mizuho Securities Vamil Divan memperkirakan vaksin tersebut dapat menghasilkan penjualan lebih dari U$ 8,5 miliar untuk Pfizer pada 2020-2021 saja.

Negara-negara kaya pun berburu vaksin Pfizer. Hingga kini, perusahaan ini telah memiliki kontrak senilai US$ 1,95 miliar dengan pemerintah AS untuk mengirimkan 100 juta dosis vaksin mulai tahun ini. Uni Eropa mengatakan mereka akan segera menandatangani kontrak hingga 300 juta dosis vaksin Pfizer dan BioNTech. Produsen obat juga telah mencapai kesepakatan pasokan dengan Inggris, Kanada dan Jepang.

Pfizer merupakan perusahaan farmasi yang berusia 171 tahun didirikan oleh Charles Pfizer dan Charles Erhart. Produk pertama Pfizer ialah Santenin yang merupakan antiparasit dalam mengobati penyakit cacingan.

Pfizer saat ini merupakan perusahahaan farmasi raksasa dunia yang memproduksi obat-obatan untuk penyakit jantung, peradangan, kanker maupun vaksinasi. Dari penjualan obat seluruh dunia, Pfizer diperkirakan mendapatkan keuntungan bersih berkisar US$ 1 miliar.

Pfizer telah menjual produknya di 125 negara dengan Amerika Serikat sebagai pasar terbesar yang menyumbang hampir 45% pendapatan perusahaan. Sedangkan segmen lain diikuti oleh Tiongkok, Afrika juga Amerika Latin.

Pendapatan yang di dapat Pfizer dari negara-negara tersebut berkisar 25% dari total pendapatan. Sementara pendapatan dari negara berkembang seperti Korea Selatan dan Selandia Baru menyumbang lebih dari 10% pendapatan.

Dari sisi produksi, Pfizer memiliki fasilitas utama di Belgia, Jerman, Irlandia, Jepang, India, Singapore, dan Tiongkok. Perusahaan telah mengoperasikan alat produksinya hampir 50 pabrik di seluruh dunia.

Adapun produk andalan perusahaan diantaranya Lipitor sebagai obat penurun kolestrol, Celebrex dan Lycria sebagai obat Pereda nyeri hingga antibiotik Zyvox. Sampai saat ini, Pfizer telah berproduksi di seluruh dunia dengan total pendapatan 55% dari pelanggan Internasional.

 Selama 5 tahun kedepan (2018 – 2022), Pfizer berencana untuk berinvestasi U$5 miliar termasuk investasi untuk penguatan manufaktur di Amerika. Pada 2019 Pfizer mengumumkan tambahan investasi setengah miliar dollar untuk pembangunan konstruksi yang canggih di kawasan North Calorina.

Sementara itu dalam operasi bisnis, Pfizer memgembangkan sistem digital dan menggunakan robot untuk menyederhanakan beberapa aktivitas. 

Infografik_Tak ada yang kebal Covid-19
 

 

Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait