PLN Minta Industri Tak Lagi Gunakan Pembangkit Listrik Mandiri

Kondisi PLN saat ini berkebalikan dibandingkan pada 2015 yakni perusahaan mengalami defisit listrik.
Image title
4 Januari 2021, 16:55
PLN, surplus pasokan listrik
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/aww.
Seorang petugas PT PLN (Persero) melakukan pemasangan trafo baru di Jalan Putri Dara Hitam, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (28/5/2020).

Pandemi Covid-19 membuat penyerapan listrik PLN tidak optimal dan pasokan listrik berlebih atau surplus. Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mendorong industri yang memiliki pembangkit listrik agar beralih menggunakan listrik PLN.

Kondisi PLN saat ini berkebalikan dibandingkan pada 2015 yakni  perusahaan mengalami defisit listrik. Darmawan mengklaim pasokan listrik PLN dapt diandalkan untuk industri. "Listrik kami sekarang sudah andal karena ada cadangannya," ujar Darmawan dalam webinar Energy Corner CNBC Indonesia, Senin (4/1).

Kondisi yang dialami PLN sebenarnya sudah mendapat perhatian Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir. Salah satunya dengan mengirimkan surat ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif pada 18 September lalu.

Dalam surat tersebut, Erick meminta Arifin memperhatikan kondisi PLN, baik secara operasional maupun keuangan, karena terdampak pandemi Covid-19. Caranya, dengan mendorong pelaku usaha memakai listrik yang disediakan PLN dan membatasi pemberian izin usaha penyediaan listrik dan captive power.

Menurunnya konsumsi listrik membuat penjualan listrik PLN merosot di tengah pandemi Covid-19. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat akibat pandemi membuat industri dan bisnis mengurangi aktivitas usahanya. "Pertumbuhan konsumsinya hanya 0,61%. Padahal, angka normalnya di 4,5%," kata dia dalam sebuah webinar, Kamis (15/10).

Hingga September 2020, penjualan listrik tercatat sebesar 179,82 terawatt hour (TWh) dibanding 178,72 terawatt hour per akhir September 2019. Konsumsi pelanggan bisnis komersial terkoreksi dari 32,55 terawatt hour di Januari hingga September 2019 menjadi 30,10 terawatt hour pada periode yang sama tahun 2020.

Untuk konsumsi listrik pelanggan industri turun dari 54,9 terawatt hour menjadi 52,45 terawatt hour. Namun, sebaliknya konsumsi listrik pelanggan rumah tangga justru mengalami kenaikan karena kebijakan pemerintah yang mengharuskan masyarakat beraktivitas di rumah.

Konsumsi listrik rumah tangga hingga September 2020 tercatat sebesar 83,84 terawatt hour atau tumbuh 10,47% dari periode yang sama tahun 2019. Rida berharap pandemi dapat segera berakhir sehingga konsumsi listrik mulai meningkat kembali.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait