Prospek Cerah Batu Bara RI di antara Konflik Tiongkok dan Australia

Sentimen lain yang mempengaruhi permintaan dan harga batu bara yakni arah perkembangan pemulihan ekonomi global dan geopolitik.
Image title
5 Januari 2021, 18:19
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Sabtu (13/6/2020). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara hingga Mei 2020 mencapai 228 juta ton, at
ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Sabtu (13/6/2020).

Permintaan batu bara Indonesia pada tahun ini diperkirakan bakal meningkat dibandingkan 2020. Kenaikan permintaan yang terutama datang dari Tiongkok akan membuat harga batu bara terus melaju.  

Sejak akhir tahun lalu, Tiongkok menghentikan sementara permintaan batu bara dari Australia akibat konflik politik ekonomi kedua negara. Tiongkok dan Australia bersitegang lantaran negeri Tirai Bambu itu mengenakan tarif pajak dan pembatasan atas ekspor produk pertanian Australia. Langkah ini sebagai balasan setelah Australia melarang penggunaan teknologi jaringan 5G raksasa dari perusahaan Tiongkok, Huawei, dengan alasan keamanan nasional.

Dosen Perbanas Institute Piter Abdullah Redjalam memperkirakan prospek cerah pasar ekspor batu bara dalam negeri selama perang dagang Australia dan Tiongkok masih berlanjut. Alasannya, kebutuhan batu bara dari Tiongkok meningkat seiring membaiknya ekonomi negara tersebut dari krisis pandemi Covid-19.

Piter memperkirakan rata-rata harga batu bara tahun ini diperkirakan akan berada di kisaran US$ 60 per ton hingga US$ 80 per ton. Sentimen lain yang mempengaruhi permintaan dan harga batu bara yakni arah perkembangan pemulihan ekonomi global dan geopolitik.

"Kalau pemulihan ekonomi global benar-benar terjadi karena vaksinasi efektif meredam pandemi (maka akan ada pertambahan permintaan)," ujar Piter kepada Katadata.co.id, Selasa (5/1).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral baru-baru ini menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) mengalami kenaikan 27,14% atau US$ 16,19 per ton menjadi US$ 75,84 per ton dibandingkan Desember tahun lalu.

Kenaikan ini membuat pergerakan HBA menuju level psikologis baru setelah mengalami tekanan sepanjang 2020 akibat pandemi Covid-19. Rata-rata HBA di tahun 2020 hanya sebesar US$ 58,17 per ton yang terendah sejak 2015.

Pada awal Januari 2020, harga batu bara dibuka pada angka US$ 65,93 per ton. HBA sempat menguat sebesar 0,28% di angka US$ 67,08 per ton pada Maret dibanding Februari yang sebesar US$ 66,89 per ton. Namun kemudian terus melorot pada April hingga September dan sempat menanjak dalam tiga bulan terakhir 2020 periode Oktober-Desember. Berikut Databoks pergerakan harga batu bara pada 2020:


Melansir Bloomberg, harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal Newcastle pada perdagangan Senin (4/1) ditutup dengan koreksi 0,43% menjadi US$ 81,4 per ton dibandingkan penutupan 2020 di US$ 81,75 per ton. Pada 2020, harga emas hitam ini sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 85,5 per ton.

Analis sekaligus pendiri Ellen May Trade (EMTrade) Ellen May mengatakan koreksi tersebut masih wajar setelah kenaikan 76% dari harga terendahnya pada September US$ 48,50 per ton.

Ellen memperkirakan komoditas batu bara memiliki potensi melanjutkan penguatan dari 2020. Faktor utamanya adalah permintaan dunia yang akan mulai pulih setelah vaksin Covid-19 ditemukan dan disuntikan.

Investigasi Batubara
Pengerukan batu bara di Kalimantan Timur. (Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA)
 

 

 

 

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan permintaan batu bara 2021 akan naik 2,6% dibandingkan 2020. Permintaan batu bara meningkat seiring proyeksi pembangkit listrik berbahan bakar batu bara naik 3% sepanjang tahun ini dibanding 2020.

Tiongkok sebagai importir batu bara terbesar dunia dinilai akan memegang peranan penting dalam pergerakan harga batu bara di 2021. Keberhasilan Negeri Panda dalam mengangkat ekonominya dari kejatuhan akibat Covid-19 menjadi kunci utama pergerakan batu bara.

"Ketika ekonomi Tiongkok mulai berjalan normal, industri akan bergerak dan akan meningkatkan kebutuhan listrik sehingga akan meningkatkan konsumsi batu bara," kata Ellen dikutip dalam risetnya, Selasa (5/1).

Saat ini ekonomi Tiongkok sudah mulai menuju keadaan pre-covid. GDP Tiongkok di kuartal III 2020 4,9%, naik dibanding kuartal I 2020 sebesar -6,8%. Indeks PMI Manufaktur Tiongkok berada di level ekspansif pada level 53,00 di bulan Desember 2020.

Ellen memperkirakan, meski permintaan baru bara meningkat tetapi aktivitas produksi batu bara Indonesia diperkirakan masih akan berjalan lambat akibat pandemi Covid-19. Sehingga pasokan batu bara akan lebih rendah dibanding permintaan.

Hingga Oktober 2020, volume produksi batu bara Indonesia sebesar 461 juta ton, turun 25% dari 2019. "Supply yang lebih rendah dibanding demand akan mendorong penguatan harga batu bara global," kata dia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan kenaikan HBA Indonesia pada Januari paling banyak dipengaruhi permintaan batu bara dari Tiongkok yang memasuki musim dingin. Selama ini Australia merupakan pemasok batu bara terbesar ke Negeri Panda.

Untuk jangka menengah dan panjang, dia memperkirakan permintaan dari negara-negara ASEAN dan beberapa negara-negara Asia Selatan akan terus meningkat. Permintaan diperkirakan meningkat seiring pulih ekonomi global dari pandemi Covid-19.

Pemerintah berperan dalam mengendalikan tingkat produksi yang berpengaruh terhadap harga. "Khususnya di tengah kondisi pasar batu bara global yang kelebihan pasokan," katanya.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait