Freeport Masih Timbang Dua Lokasi Pembangunan Smelter Tembaga

Pengamat ragukan komitmen Freeport merampungkan pembangunan smelter pada 2023.
Image title
6 Januari 2021, 17:20
freeport, smelter, halmahera
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Sejumlah Haul Truck dioperasikan di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua.

Pemilihan lokasi pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia hingga kini masih bergulir. Pemerintah memberikan keleluasaan kepada perusahaan dalam memilih dua lokasi pabrik.

Juru bicara PT Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan saat ini perusahaan masih berdiskusi mengenai pemilihan lokasi. Pertama, di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur dengan nilai investasi US$ 3 miliar atau sekitar Rp 42 triliun. Saat ini perusahaan tengah melakukan test piling untuk smelter dengan kapasitas 1,7 juta ton.

Kedua, di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku. Bila memilih Halmahera, Freeport dapat menggandeng perusahaan Tsingshan Steel asal Tiongkok untuk membangun smelter tersebut. Nilai proyeknya US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 25,5 triliun.

Riza mengatakan untuk rencana ekspansi PT Smelting di Gresik, Jawa Timur, perusahaan sudah memulai proses engineeringnya. Sementara diskusi dengan Tsingshan untuk pembangunan smelter di Halmahera masih berlangsung.

"Sesuai dengan arahan pemerintah, PTFI masih dalam progress diskusi untuk menjajaki kerja sama dengan Tsingshan," ujar dia kepada Katadata.co.id, Rabu (6/1).

Pakar Hukum Pertambangan Ahmad Redi pesimistis Freeport dapat merampungkan pembangunan smelter pada 2023. Redi mempelajari track record Freeport yang terus menegasikan kewajiban hilirisasi mineral dan pemerintah juga tidak tegas terhadap perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.

"Berkali-kali mereka menjanjikan tapi realisasinya tidak jelas. Seakan hanya memberi harapan palsu kepada pemerintah," ujarnya.

Ia pun mendorong Freeport supaya berkomitmen untuk tetap membangun pabrik smelter di Gresik. Ini sesuai dengan proposal Freeport yang diajukan ketika dulu meminta izin ekspor konsentrat kepada pemerintah.

"Perlu tindakan tegas, misal pemerintah tidak mengizinkan ekspor konsentrat apabila tidak memenuhi progres pembangunan smelter," ujar Redi.



Sebelumnya, Direktur Utama Indonesia Asahan Aluminum atau MIND ID Orias Petrus Moedak pun mendukung rencana Freeport menggandeng Tsingshan Steel. Dengan syarat, biaya pembangunannya lebih kecil dibandingkan hitungan awal.

Pasalnya, dari investasi sebesar US$ 3 miliar untuk membangun smelter di Gresik, MIND ID selaku induk usaha harus menanggung beban US$ 1,2 miliar hingga US$ 1,5 miliar. “Jadi, kami mendukung (smelter di Halmahera). Tapi saat ini semua masih dalam tahap awal pembicaraan,” kata Orias.

Rencana ini juga turut mendapat dukungan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, dalam wawancaranya dengan Asia Times, mengatakan kesepakatannya akan ditandatangani sebelum Maret 2021.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait