Menlu Retno Pimpin Program WHO untuk Pengadaan Vaksin Covid-19

Selain Menlu RI, dua perempuan lain menjadi ketua yakni Menteri Kesehatan Ethiopia Lia Tadesse dan Menteri Pembangunan Internasional Kanada Karina Gould.
Yuliawati
13 Januari 2021, 15:29
Menlu Retno Marsudi, program Covac, WHO
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi terpilih sebagai salah satu co-chairs program pengadaan vaksin WHO.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi terpilih menjadi salah satu ketua bersama (co-chair) untuk program COVAX AMC Engagement Group yang diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Aliansi Vaksin (GAVI).

Selain Menlu RI, dua perempuan lain menjadi ketua yang sama  yakni Menteri Kesehatan Ethiopia Lia Tadesse dan Menteri Pembangunan Internasional Kanada Karina Gould. Ketiga co-chair ini bertugas mengawal program pengadaan dan distribusi vaksin COVID-19 bagi 92 negara yang tergabung dalam COVAX AMC.

Pemilihan ketua melalui online voting di Jenewa (12/01) dengan Retno mengumpulkan suara terbanyak yakni 41 % dari total suara yang masuk. Retno menyebut terpilihnya perwakilan Indonesia perlu dimaknai sebagai wujud kepercayaan dunia.

“Merupakan tanggung jawab besar Indonesia untuk mewujudkan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara melalui jalur multilateral. Tanggung jawab besar ini kita upayakan untuk ditunaikan sebaik mungkin,” ujar Retno dikutip dari Antara, Rabu (13/1).

COVAX AMC Engagement Group merupakan forum antar negara AMC dengan negara-negara donor untuk pengadaan dan distribusi vaksin bagi negara AMC.

Melalui forum kerja sama tersebut, 92 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang bergabung dalam Fasilitas COVAX, akan memperoleh akses ke vaksin COVID-19 yang aman dan efektif dengan bantuan negara donor.

Fasilitas COVAX sendiri memiliki target pengadaan vaksin bagi 20 persen dari populasi setiap negara AMC, dan mendukung kesiapan negara AMC untuk melakukan rencana vaksinasi nasional.

“Tentunya pengadaan akan dilakukan secara bertahap karena masih terbatasnya vaksin yang tersedia bagi semua negara,” kata Retno.

Indonesia merupakan negara dalam urutan ke-5 yang paling banyak membeli vaksin. Berikut grafik dalam databoks:

Meskipun mengakui bahwa target pengadaan vaksin oleh COVAX tidak mudah dijalankan karena sumber daya yang terbatas dan kesiapan semua negara dalam menerima vaksin COVID-19, Retno meyakini bahwa kerja sama erat oleh semua negara dapat membantu tercapainya target tersebut.

Guna menindaklanjuti peran barunya dalam memimpin COVAX AMC Engagement Group, Menlu RI melalui PTRI Jenewa akan segera melakukan komunikasi intensif dengan GAVI, yang bermarkas di Swiss.

“Sementara itu, saya juga akan menghubungi dua ketua lain untuk mulai menjalin komunikasi,” ujar Retno.

WHO sejak beberapa bulan lalu menjalankan program COVAX dengan target memberikan sekitar 2 miliar dosis vaksin corona pada akhir 2021. Tujuannya menjaring 20% dari orang yang paling rentan di 91 negara miskin dan berpenghasilan menengah yang berlokasi sebagian besar di Afrika, Asia dan Amerika Latin.

Berdasarkan laporan Reuters dari dokumen internal WHO yang mereka peroleh, program tersebut mengalami berbagai hambatan seperti penggalangan dana, risiko pasokan dan pengaturan kontrak yang rumit yang membuat tujuan sulit tercapai.  "Risiko kegagalan sangat tinggi untuk membangun fasilitas COVAX," bunyi laporan internal WHO kepada dewan Gavi dikutip dari Reuters, Kamis (17/12).

Salah satu hambatan dari fasilitas ini yakni kesediaan dana. Untuk memenuhi target vaksinasi setidaknya 20% orang di negara-negara miskin tahun depan, COVAX membutuhkan US$ 4,9 miliar atau sekitar Rp 69,3 triliun di luar dana yang telah dikumpulkan US$ 2,1 miliar atau sekitar Rp 29,6 triliun.

 

Reporter: Antara
Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait