Terdepan Vaksinasi Corona, AS Terancam Mundur Capai Imunitas Kelompok

Pakar penyakit menular terkemuka Amerika Serikat (AS), Anthony Fauci, mengatakan saat ini vaksin kurang protektif terhadap varian Afrika Selatan.
Yuliawati
22 Februari 2021, 17:47
Amerika Serikat, kekebalan kelompok, vaksin virus corona, gerakan 3M
ANTARA FOTO/REUTERS/Corinna Kern/HP/sa.
Seorang perempuan menerima vaksinasi melawan virus corona (COVID-19) sebagai bagian dari inisiatif kota Tel Aviv yang menawarkan minuman gratis di sebuah bar kepada penduduk yang mendapatkan suntikan, di Tel Aviv, Israel, Kamis (18/2/2021).

Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang terdepan dalam proses vaksinasi penduduknya. Namun, para ahli belum yakin dalam memperkirakan tercapainya herd immunity atau kekebalan kelompok karena beberapa faktor yang perlu diamati.

Pemerintah Joe Biden telah memvaksinasi lebih dari 15 juta orang. Pada saat ini rata-rata pemberian vaksin virus corona sekitar 1,7 juta suntikan per hari.  Perhitungannya herd immunity atau kekebalan kelompok dapat tercapai bila 70% penduduk menerima vaksin. Jumlah ini dianggap cukup banyak yang kebal terhadap virus sehingga tidak dapat lagi menyebar ke seluruh populasi.

New York Post melaporkan, beberapa ahli mengatakan vaksinasi kemungkinan akan digandakan menjadi 3 juta suntikan per hari pada April, ketika FDA menyetujui vaksin baru. Sehingga, berdasarkan model yang dikembangkan oleh PHICOR, Amerika diperkirakan bisa mencapai imunitas kelompok pada paruh kedua tahun ini.

Namun, herd immunity tidak hanya bergantung pada seberapa cepat dalam memvaksinasi. Faktor lain seperti berapa berapa lama kekebalan dari vaksin akan bertahan dan seberapa mudah virus menyebar mempengaruhi terbentuknya imunitas kelompok.

“Jika banyak orang kehilangan kekebalan selama beberapa bulan ke depan setelah sembuh dari infeksi, itu akan membuat lebih banyak orang rentan terhadap virus lagi,” kata Bruce Y. Lee, seorang profesor di Sekolah Kebijakan Kesehatan & Kesehatan Masyarakat Universitas Kota New York, dikutip dari New York Post.

Varian virus yang lebih menular ini menjadi momok di Amerika akan memperumit jalan menuju imunitas kelompok.  Lee mengatakan bahwa virus korona memiliki tingkat mutasi yang relatif tinggi dan kemungkinan varian baru dari virus tersebut akan terus bermunculan.

"Jika varian virus berhenti merespons vaksin, selanjutnya akan menjadi masalah menentukan apakah dan kapan vaksin baru perlu diproduksi,” kata dia.  

Pakar penyakit menular terkemuka Amerika Serikat (AS), Anthony Fauci, mengatakan saat ini vaksin dapat melindungi diri dari varian Inggris. Namun, kurang protektif terhadap varian Afrika Selatan. "Jika virus Afrika menjadi lebih dominan, kami mungkin harus mendapatkan versi vaksin yang ditujukan secara khusus untuk melawan varian tersebut," kata Fauci dikutip dari NBC.

Hambatan lain dalam kekebalan kelompok yakni lemahnya masyarakat menjadi kurang waspada setelah divaksin. Meski setelah menerima vaksin, masyarakat diminta untuk tetap menerapkan protokol kesehatan seperti mengenakan masker dan berjaga jarak sebagai langkah yang efektif dalam mengurangi penyebaran virus corona.

 

Berdasarkan perhitungan Bloomberg beberapa waktu lalu, Israel merupakan negara dengan tingkat vaksinasi Covid-19 tertinggi di dunia. Israel sudah menyuntikkan 62,4 dosis vaksin COVID-19 untuk setiap 100 orang.

Mereka berupaya keras menuju kekebalan kelompok, yang ditargetkan selesai dalam dua bulan. Amerika Serikat disebutkan juga akan menyusul Israel, yang diperkirakan selesai vaksinasi tepat pada perayaan Tahun Baru 2022 mendatang.

Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait