Amerika Serikat dan 13 Negara Tolak Laporan WHO soal Asal Usul Covid

Laporan investigasi WHO dianggap tak transparan tak menyertakan sumber data dan sampel.
Yuliawati
31 Maret 2021, 15:10
asal usul covid-19, WHO, Amerika serikat, China
ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie/wsj.
Warga Kota Beijing memadati pusat jajanan kuno di kawasan Qianmen pada hari pertama liburan Tahun Baru China di Beijing, China, Rabu (10/2/2021).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Amerika Serikat bersama dengan 13 negara lain membuat pernyataan yang mengkritik Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO atas kurang memuaskannya hasil penyelidikan tentang asal-usul Covid-19.

Dalam pernyataan bersama, Australia, Kanada, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Israel, Jepang, Latvia, Lituania, Norwegia, Korea Selatan, Slovenia, Inggris Raya, dan Amerika Serikat, menyebutkan laporan tersebut tak transparan mengungkapkan akses ke data dan sampel yang lengkap dan asli.

Mereka menyebutkan dalam menghadapi pandemi serius perlu ada evaluasi yang cepat, independen yang dipimpin oleh ahli dan tanpa hambatan menyelidiki asal-usul patogen. "Hal ini sangat penting agar lembaga kesehatan masyarakat, industri, dan pemerintah siap untuk merespons pandemi seperti itu dan mencegah pandemi di masa depan,” bunyi pernyataan bersama 14 negara, dikutip dari CNBC International, Rabu (31/3).

Lewat pernyataan bersama mereka mendesak komitmen WHO dan semua negara anggotanya untuk memberikan akses, transparansi, dan ketepatan waktu terkait laporan WHO tersebut.

WHO membuat laporan sebanyak 120 halaman yang diterbitkan Selasa kemarin dan diproduksi oleh tim ilmuwan internasional.
"Kami belum menemukan sumber virus, dan kami akan melanjutkan dengan mengikuti perkembangan sains dan melakukan segala cara untuk mencapai hasil yang baik, seperti yang kami lakukan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam jumpa pers Selasa (30/3).

Tedros mengatakan menemukan asal usul virus corona membutuhkan waktu. Dia mengatakan mengatakan bahwa meskipun kebocoran laboratorium sebagai salah satu hipotesis yang paling kecil kemungkinannya, diperlukan lebih banyak penelitian.

Hipotesis lainnya yang berkembang yakni kemungkinan virus telah berpindah dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara lainnya. "Izinkan saya mengatakan dengan jelas bahwa semua hipotesis itu perlu dikaji kembali," katanya.

Pemimpin tim investigasi WHO, Peter Ben Embarek, mengatakan timnya tidak menemukan bukti bahwa ada laboratorium di Wuhan yang terlibat dalam wabah tersebut.

Embarak juga mengatakan bahwa "sangat mungkin" kasus corona telah ada di Wuhan pada Oktober atau November 2019. Adapun China memberi tahu WHO tentang kasus tersebut pertama kali pada 3 Januari 2020 atau sebulan setelah infeksi pertama dilaporkan.

China selalu menolak klaim virus itu berasal dari laboratorium dan mengatakan bahwa meskipun Wuhan adalah tempat kelompok kasus pertama terdeteksi, belum tentu dari mana virus itu berasal. Bahkan pemerintah Tiongkok menuding virus itu tiba di Wuhan melalui impor makanan beku.

Saat ini lebih dari 127 juta orang telah tertular virus sejak pertama kali diidentifikasi, dan lebih dari 2,7 juta orang diketahui telah meninggal karenanya. Tiongkok berhasil mengendalikan pandemi melalui pengujian massal yang cepat, lockdown, dan pembatasan perjalanan.

Amerika Serikat menduduki posisi pertama dengan kasus aktif Covid-19 tertinggi di dunia. Hingga hari ini jumlah kasus Covid-19 di Indonesia tembus 1,5 juta orang, berikut grafik dalam Databoks:

 

 Penyumbang bahan: Muhamad Fikri (magang)

Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait