Lampaui RI, Kasus Covid-19 Malaysia Melonjak dari Klaster Perkantoran

Kenaikan kasus Covid-19 di Malaysia lebih dari 20 ribu dalam sehari membuat masyarakat dan pemerintah khawatir.
Yuliawati
19 Agustus 2021, 12:11
Malaysia, Covid-19,
ANTARA FOTO/REUTERS/Lim Huey Teng/rwa/cf
Suasana jalan kosong saat "lockdown" akibat penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (1/6/2021).

Kasus harian Covid-19 di Malaysia melonjak sepekan terakhir, dengan rekor pada Rabu (18/8) mencapai 22 ribu. Kasus harian di Malaysia tersebut melampaui Indonesia yang mencetak 20 ribu kasus di hari yang sama.

Populasi masyarakat Malaysia sebesar 32 juta, berbeda jauh dengan Indonesia. Sehingga, kenaikan kasus harian di kisaran 20 ribu membuat pemerintah Malaysia khawatir.  Adapun total kasus di negeri jiran tersebut saat ini sebanyak 1,46 juta dengan 13.302 orang meninggal.

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah, menyebut lonjakan kasus tersebut akibat peningkatan klaster tempat kerja. “Sebanyak 1.549 klaster tempat kerja memiliki setidaknya 133.247 kasus positif,” kata Noor dikutip dari The Star, Rabu (18/8).

Noor menyebutkan klaster tempat kerja berkontribusi terhadap penambahan kasus nasional 53%. Sektor manufaktur menjadi penyebab terbesar penularan kasus, disusul oleh sektor jasa dan konstruksi.

Selain tempat kerja, penularan di lingkup keluarga dan komunitas perumahan menjadi penyumbang selanjutnya. “Ditemukan 880 klaster komunitas masyarakat. 481 adalah hasil dari kunjungan rumah ke rumah, serta wabah di area perumahan,” kata Noor.

Kasus Covid-19 terus bertambah meskipun pemerintah Malaysia menggenjot program vaksinasi. Jumlah penerima vaksin dosis pertama di Malaysia mencapai 54% dari populasi per Selasa (17/8). Sedangkan yang sudah mendapatkan dosis penuh mencapai 35%.

Ahli epidemiologi Universitas Putra Malaysia, Malina Osman, mengkritisi mengapa kasus terus melonjak padahal angka vaksinasi sudah tinggi. “Mereka yang sudah divaksin dengan dosis penuh seharusnya tidak diberikan kelonggaran beraktivitas,” ujar Malina dikutip dari The Star, Kamis (19/8).

Selain itu Malina menyoroti jumlah vaksin dosis penuh relatif masih rendah. Lebih dari itu, ia mengatakan banyak rumah sakit yang masih menangani penularan dengan jumlah kasus yang tinggi.

Selain itu, varian Delta turut berperan dalam kenaikan kasus di Malaysia. Ketua Asosiasi Praktisi Medis Malaysia, Raj Kumar, mengatakan penyebaran varian Delta bisa saja mengharuskan masyarakat mendapatkan vaksin dosis lanjutan atau booster.

Raj mengingatkan masyarakat agar tidak abai terhadap pembatasan aktivitas dan protokol kesehatan meski sudah mendapatkan vaksinasi. “Semua orang yang lengah harus diberi tahu dengan baik tentang risiko yang mungkin terjadi,” ujarnya.

Advertisement

Saat ini, pemerintah Malaysia menargetkan 80% populasi untuk mendapatkan vaksinasi dosis penuh. Dengan begitu, mereka berharap kekebalan masyarakat bisa segera terwujud.

 Penyumbang bahan: Akbar Malik Adi Nugraha

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait