Evakuasi dari Afghanistan Kacau, Taliban Mulai Usir Warga dari Bandara

Taliban mulai mengusir warga Afghanistan yang hendak melarikan diri melalui bandara Kabul.
Yuliawati
19 Agustus 2021, 16:45
Taliban, Afghanistan, evakuasi
ANTARA FOTO/Courtesy of Defense One/Handout via REUTERS/rwa/cfo
Warga memenuhi ruangan dalam pesawat transportasi US Air Force C-17 Globemaster III, yang membawa 640 warga Afganistan menuju Qatar dari Kabul, Afganistan, Minggu (15/8/2021).

Sejak Taliban berkuasa pada 15 Agustus lalu, sebagian warga Afghanistan dan pekerja ekspatriat berkumpul di bandara Kabul untuk meninggalkan negara itu. Namun, proses evakuasi tak berjalan dengan baik.

Dua belas orang tewas di dalam dan sekitar bandara sejak Minggu lalu. Kematian itu disebabkan oleh tembakan senjata dari Taliban atau terinjak-injak kerumunan.

Taliban mulai hari ini hendak membubarkan kerumunan warga Afghanistan di bandara. Seorang pejabat Taliban mengimbau kepada masyarakat yang tidak memiliki hak legal untuk meninggalkan bandara.  "Kami tidak ingin melukai siapa pun di bandara," kata pejabat Taliban, yang menolak disebutkan namanya dikutip dari Reuters, Kamis (19/8).

Seorang saksi mata mengatakan orang-orang bersenjata Taliban mencegah orang masuk ke kompleks bandara. "Ini adalah bencana yang lengkap. Taliban menembak ke udara, mendorong orang, memukuli mereka dengan AK-47," kata satu orang warga dikutip dari Reuters.

Taliban menguasai afghanistan setelah Amerika Serikat setuju untuk menarik pasukannya. Penarikan pasukan tersebut dengan jaminan Taliban bahwa mereka tidak akan membiarkan Afghanistan digunakan untuk melancarkan serangan teroris. Taliban juga setuju untuk tidak menyerang pasukan asing saat mereka pergi.

Amerika Serikat dan negara Eropa mendesak menjalankan proses evakuasi warga negaranya, staf kedutaan, hingga petugas kemanusiaan yang pernah bekerja untuk mereka.

Reuters mendapatkan informasi sekitar 8.000 orang telah diterbangkan sejak Minggu lalu. Hingga saat ini, militer AS bertanggung jawab atas keamanan bandara sementara pejuang Taliban berpatroli di luar tembok dan pagar pembatasnya.

Jerman merupakan negara yang telah menjalankan proses evakuasi. Pesawat Lufthansa pertama yang membawa 130 orang dari Afghanistan mendarat di Frankfurt, Jerman, pada Rabu pagi.

Advertisement

Warga Afghanistan yang tiba di Jerman menceritakan pemandangan kacau dan mengerikan di bandara Kabul sebelum mereka dievakuasi. "Kami harus memaksa maju dan putra kecil saya jatuh dan kami takut, tetapi kami berhasil," kata seorang perempuan yang berbicara dalam bahasa Jerman.

"Kemudian seorang pria Amerika menunjukkan niat baik dan menyadari bahwa kami benar-benar kelelahan. Dia mengambil paspor dan berkata bahwa saya perlu memeriksa apakah ini asli. Kemudian dia berkata 'baiklah, Anda boleh masuk'. Yang lain di belakang menangis dan berbaring di tanah. Menakutkan."

Perempuan itu, putra, dan suaminya, meninggalkan Afghanistan karena berisiko dari gerilyawan Taliban. Mereka telah bekerja untuk tentara-tentara NATO atau organisasi amal yang didanai Barat.

Tak satu pun dari sedikit orang yang berbicara kepada wartawan menyebutkan nama mereka atau apa yang telah mereka lakukan di Afghanistan. Di negara itu, banyak orang takut akan pembalasan berlangsung terhadap para anggota keluarga --yang mungkin tidak akan pernah mereka lihat lagi.

"Semua orang ingin keluar," kata suami  perempuan itu. "Setiap hari lebih buruk dari hari sebelumnya. Kami menyelamatkan diri kami sendiri tetapi kami tidak bisa menyelamatkan keluarga kami."

Kanselir Angela Merkel mengatakan pada pertemuan Partai Demokrat Kristen pada Senin (16/8) bahwa Jerman mungkin perlu memberikan suaka kepada sekitar 10.000 warga Afghanistan, yang bekerja untuk tentara Jerman dan badan-badan pembangunan, juga para aktivis hak asasi manusia dan pengacara.

Duta Besar Besar Inggris untuk Afghanistan Laurie Bristow mengatakan bekerja sama dengan Taliban dalam proses evakuasi. Ia menyebutkan program evakuasi akan berlangsung beberapa hari.

“Kami mencoba untuk meningkatkan kecepatan, selama beberapa hari ke depan, kami akan mengerahkan semua yang kami bisa untuk beberapa hari ke depan, mencoba mengeluarkan orang-orang yang perlu kami selamatkan sesegera mungkin dan semampu kami," kata Dubes Bristow kepada wartawan.

 Penyumbang bahan: Akbar Malik Nugraha

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait