Menkes Budi Gencar Lobi WHO untuk Jadikan RI Hub Produksi Vaksin mRNA

Perusahaan Indonesia bekerja sama dengan produsen asal Tiongkok mengembangkan produksi vaksin Covid berbasis mRNA.
Yuliawati
16 September 2021, 17:17
vaksin, who, budi gunadi
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Indonesia menawarkan diri menjadi hub produksi vaksin virus corona untuk berkontribusi pada rantai pasokan global. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan optimistis World Health Organization  atau WHO  memilih Indonesia untuk menjadi pusat vaksin global, menyusul Afrika Selatan.

Sebagai persiapan langkah tersebut, Budi mengatakan akan memulai inisiatif dengan memprioritaskan pembelian vaksin Covid-19 dari perusahaan yang mendirikan fasilitas di Indonesia. “Kami bekerja sama dengan WHO untuk menjadi salah satu pusat manufaktur global vaksin mRNA,” kata Menkes Budi, dikutip dari Reuters, Kamis (16/9).

Budi optimistis Indonesia menjadi pusat vaksin global menyusul Afrika Selatan yang menjadi lokasi pertama. “WHO telah menunjuk Afrika Selatan sebagai lokasi pertama, dan saya mengatakan bahwa secara logis Indonesia harus menjadi yang kedua,” ujar Budi.

Lebih lanjut, Budi mengatakan Indonesia berada dalam lokasi yang strategis untuk mengekspor vaksin ke seluruh dunia. Hal itu didukung juga oleh karakter negara yang bermayoritas penduduk muslim, sehingga kehalalan vaksin akan terjamin.

Pembicaraan mengenai rencana kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan WHO sudah dilakukan sejak bulan Juli lalu. Kemudian, Budi bertemu dengan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 6 September lalu saat pertemuan saat G-20 Health Ministers Meeting di Roma, Italia.

Pembicaraan mengenai Indonesia akan menjadi hub vaksin global menjadi lebih serius. Kepada Reuters, juru bicara WHO mengatakan Indonesia adalah salah satu dari 25 negara berkembang yang berminat untuk menjadi pusat vaksin global.

Kendati Indonesia telah menyatakan minatnya, juru bicara WHO belum memastikan apakah Indonesia masuk ke dalam daftar kandidat utama atau tidak.

WHO sedang merancang strategi pusat transfer teknologi vaksin agar distribusi vaksin bisa lebih meluas dan menyeluruh secara global. Sehingga, WHO berniat membangun pusat vaksin di negara-negara berkembang agar distribusi dan penyuntikkan vaksin bisa lebih merata.

Indonesia menawarkan akan memasok jenis vaksin berbasis asam nukleat atau mRNA seperti yang dikembangkan Moderna dan Pfizer. Jenis vaksin ini memiliki tingkat efikasinya lebih tinggi termasuk dalam melawan Delta.

Tawaran RI menjadi hub tak terlepas dari kapasitas produksi yang dimiliki produsen. Saat ini PT Bio Farma mampu memproduksi 267 juta dosis vaksin per tahun.

Saat ini, salah satu perusahaan nasional PT Etana Biotechnologies Indonesia di Pulo Gadung, Jakarta, menggandeng Walvax Biotechnology asal Tiongkok untuk memproduksi vaksin Covid-19 berbasis mRNA. Walvax terlibat dalam riset, pengembangan, produksi, monoclonal antibodi, hingga produk darah.

Walvax ini terlibat dalam proyek pengembangan vaksin Covid-19 berbasis mRNA bernama ARcoVax di Tiongkok. Selain Walvax, vaksin dikembangkan bersama oleh Akademi Ilmu Kedokteran Militer, dan Suzhou ABOGEN.

ARcoVax itu akan diproduksi massal di pabrik dengan investasi 520 juta yuan. Rencananya produksi pertama pada Oktober dari pabrik di Provinsi Yunnan dengan kapasitas 200 juta dosis per tahun.

 Penyumbang bahan: Akbar Malik

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait