Epidemiolog Nilai Jakarta Bisa ke PPKM Level 2 karena Covid-19 Turun

Penurunan level PPKM perlu menggunakan data yang akurat.
Image title
20 September 2021, 15:28
PPKM, Jakarta, Covid-19
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Pengunjung berjalan keluar usai menonton di Bioskop CGV Grand Indonesia di Jakarta, Kamis (16/9/2021).

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM di kawasan Jawa-Bali akan berakhir pada Senin (20/9) ini. Epidemiolog menilai PPKM di wilayah Jabodetabek yang saat ini berada di level 3 bisa turun ke level 2.

"Jabodetabek relatif lebih mudah turun ke level 2," kata Epidemiolog dari Grifitth University Dicky Budiman kepada Katadata, Senin (20/9).

Dia menilai wilayah Jakarta sudah layak untuk menerapkan PPKM level 2 karena indikator transmisi komunitas kasus Covid-19 telah memasuki level 1.

Selain itu, Jakarta juga memiliki kinerja pengetesan, penelusuran, dan perawatan (3T) yang baik. Di sisi lain, positivity rate di Jakarta sudah di bawah 3%. Tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) di rumah sakit pun berada pada kategori normal.

Sedangkan, penerapan protokol kesehatan juga mulai dipatuhi oleh para pelaku usaha, seperti kafe dan restoran. "Ini modal penting karena penurunan PPKM bukan hanya melihat indikator epidemiologi, tapi juga kepatuhan lintas sektor," ujar dia.

Namun, Dicky menilai PPKM di luar Jabodetabek belum bisa turun level. Sebab, cakupan vaksinasi perlu ditingkatkan hingga mencapai dosis kedua.



Setali tiga uang, Epidemiolog dari Universitas Airlangga Laura Navika Yamani berharap PPKM di Jabodetabek sudah bisa turun level. "Karena kondisinya bisa dikatakan cukup terkendali," ujar dia.

Meski begitu, ia mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan kasus di kemudian hari. Hal ini bisa terjadi apabila ada penyebaran mutasi baru di Indonesia.

Untuk itu, pemerintah perlu melakukan penguatan deteksi varian Covid-19 mutasi baru melalui Whole Genome Sequencing. Kemudian, pengetatan pintu masuk internasional perlu dilakukan. "Mungkin saja kasus di negara lain meningkat karena adanya mutasi," ujar dia.

Epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko mengatakan, penurunan level PPKM perlu dipastikan menggunakan data yang akurat. Sebab, ia menilai masih banyak kabupaten/kota yang tidak mengukur transmisi secara tepat. "Sekarang kabupaten/kota buru-buru mau turun level atau membuka kegiatan sosial," ujar dia.

Oleh karenanya, ia berharap pemerintah dapat menggunakan indikator transmisi secara kelas. Dengan demikian, penurunan level PPKM akan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Hampir semua provinsi melaporkan penurunan jumlah kasus baru Covid-19. Tambahan kasus baru Covid-19 yang dilaporkan Minggu (19/9), sebanyak 2.234 kasus. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak 24 Agustus 2020 yakni 1.877.

Dari 34 provinsi, hanya ada delapan provinsi yang mencatakan tambahan kasus di atas 100 yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI  Jakarta, Sumatera Utara, Bali, Aceh, dan D.I Yogyakarta.  Biasanya ada lebih dari 15 provinsi yang melaporkan tambahan kasus di atas 100.

 

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait