DBS Sebut Krisis Utang Evergrande Tak Berpengaruh Besar ke Asia

Krisis utang Evergrande akan memberikan dampak terutama terhadap sistem keuangan di Cina, tak berpengaruh besar terhadap Asia.
Yuliawati
28 September 2021, 16:36
Evergrande, Cina,
ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie/HP.
Suasana lalu lintas kawasan perkantoran dan bisnis di Jalan Raya Chaoyangmen Wai, Beijing, pada Kamis (18/2/2021).

Pimpinan DBS Group menilai krisis utang China Evergrande Group tak akan berdampak sistemik bagi industri perbankan di kawasan Asia. Krisis Evergrande diperkirakan akan memberikan tekanan pada sistem keuangan di Cina

“Saya tidak berpikir banyak bank Asia akan memiliki eksposur,” kata CEO DBS Group Holdings Ltd. Piyush Gupta dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Television dikutip Selasa (28/9). “Saya tidak berpikir itu akan menghancurkan industri perbankan Asia."

Gupta mengatakan krisis utang Evergrande akan memberikan dampak terutama terhadap sistem keuangan di Cina. "Bank domestik Cina yang memiliki eksposur," katanya.

Krisis utang Evergrande meskipun tak sebesar Lehman Brother akan memberikan pengaruhnya kepada ekonomi Cina. Analisis Citigroup menyebutkan beberapa bank di Cina yang meminjamkan dananya kepada Evergrande memiliki risiko kredit macet.

Bank dengan risiko tertinggi yakni China Minsheng Banking Corp., Ping An Bank Co. dan China Everbright Bank Co. Selanjutnya Bank of Nanjing Co., Chongqing Rural Commercial Bank Co., dan Postal Savings Bank of China Co. memiliki risiko yang lebih rendah.

Goldman Sachs Group menilai Evergrande memiliki nilai ekonomi yang penting di Cina. Krisis pada perusahaan dengan aset sekitar 2 triliun yuan (US$ 310 miliar) atau sekitar Rp 4.425 triliun setara dengan 2% dari produk domestik bruto Cina, akan memberikan gangguan pasar.

Investor pun mulai berhati-hati terhadap investasi pada perusahaan di sektor properti. Indeks Properti Hang Seng turun ke level terendah dalam lima tahun.



Evergrande gagal memenuhi kewajiban membayar bunga obligasi US$ 83,5 juta atau lebih Rp 1,2 triliun yang jatuh tempo pada Kamis pekan lalu. Ada pula pembayaran bunga surat utang senilai US$ 47,5 juta atau sekitar Rp 676 miliar. Kedua obligasi akan gagal bayar apabila Evergrande tidak melunasinya dalam waktu 30 hari setelah jatuh tempo.

Bloomberg mencatat Evergrande memiliki kewajiban membayar kupon obligasi US$ 669 juta atau sekitar Rp 9,5 triliun hingga akhir tahun ini.

Selain kewajiban terhadap obligasi dan bunganya, perusahaan juga memiliki utang lebih dari US$ 300 miliar atau setara Rp 4.282 triliun. Angkanya tidak jauh dari produk domestik bruto (PDB) Filipina 2020 yang sekitar US$ 361,5 miliar, menurut data Bank Dunia. Sebagian besar utang ini merupakan kewajiban kepada pembeli rumah, pemasok, dan lembaga keuangan lokal.

Untuk mengatasi dampak sistemik, Bank Sentral Cina telah memompa likuiditas ke sistem keuangan setelah biaya pinjaman naik akibat risiko yang ditimbulkan olen krisis utang Evergrande. People Bank of China menggelontorkan 100 miliar yuan atau setara Rp 220 triliun pada Senin (27/9), setelah menyuntikkan 50 miliar yuan sebelumnya untuk menurunkan tingkat bunga repo tenor tujuh hari.

Total likuiditas yang telah digelontorkan PBoC selama enam hari terakhir mencapai 500 miliar yuan atau sekitar Rp 1.100 triliun.  Moody’s Investors Service menilai Cina akan berusaha untuk menghindari ketidakstabilan sosial dan keuangan yang berasal dari penyelesaian masalah Evergrande. Namun, ini membutuhkan biaya ekonomi yang besar.

 


   

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait